Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

The Levels

Sekarang juga gue ngerasa gak sekuat dulu. Setebal dulu. Dulu... iya, dulu... Banyak sekali yang telah berubah. Ingin rasanya kembali ke masa itu lagi. Saat tidak tahu. Mungkin berpura-pura untuk tidak tahu. Menyenangkan rasanya. Sesudah itu penyesalan yang ada. Dulu, ketika semua masalah seakan-akan memaksamu untuk menjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi padamu. Itulah letak terkenangnya. Ketika akhirnya kau bisa melewati level tersulit yang pernah kau jumpai. Dan sekarang disinilah kau, melihat kembali dirimu pada level yang telah kau lalui. Berharap kembali pada level itu, karena kau yakin akan terasa mudah dengan status levelmu yang berada diatas level sebelumnya. Kurasa, ini karena kau sedang tak ingin berada di level tempatmu seharusnya berada. Tantangannya terasa "hebat"-kah? Inilah, titik jatuhmu. Ketika tes levelmu memintamu untuk mengerjakannya dan kau belum mempersiapkan dirimu sehingga tanpa sadar kau ingin untuk tidak mengikuti tes itu sama sekali. Bisak

Sekilas Membekas

Yang sekilas lebih membekas. Setiap hari wajib banyak banget aktivitas yang harus gue lakuin. Pernah sampai-sampai gue mikir, setelah ini selesai pasti gue bisa santai. Nyatanya nggak sama sekali! Aktivitas itu malah kian bertambah setiap harinya. Persis sama hal yang gue rasain sama kajiannya Ust. Felix Y Siauw tentang Life Is A Choice. Berawal dari SD. Anak SD ngerasa aktivitas anak SD itu banyak. Jadi dia berharap cepat-cepat lulus dan masuk SMP supaya kegiatannya juga berkurang. Yang terjadi? Semakin bertambah tentunya. Makalah, tugas-tugas kian menumpuk. Tidak berkurang, bukan? Kemudian, dia berharap lekaslah selesai masa SMP agar menapaki masa SMA yang sekiranya tidak begitu sibuk. Dan ternyata, lebih-lebih sibuk lagi. Kemudian, berharap lagi masa SMA berakhir dan menuju jenjang perkuliahan yang mendapat waktu untuk bersenang-senang. Begitukah? Tentu tidak. Setelah kuliah, berharap mendapat aktivitas yang lumayan lenggang ketika kerja. Tidak sama sekali. Dan sampailah pad

A Scar

Luka sebagaimana definisi umumnya menimbulkan rasa sakit bagi si penderitanya. Perih, si luka kerap kali berdenyut-denyut tanpa henti. Kau tau, sistem tubuh memperbaiki luka itu. Menumbuhkan sel-sel baru padanya. Dengan kata lain perlahan-lahan menuju kesembuhan.  Layaknya luka, setiap hati pun begitu. Entah patah atau robek, kau tak pernah tau. Tanpa pernah terluka hati tak akan memperkuat bagian-bagiannya. Bahkan menciptakan sesuatu yang baru. Pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, ada satu keping puzzle yang terlupa. Bagaimana caranya? Untuk luka sudah ada sistem yang mengatur. Lalu, bagaimana dengan hati yang entah dimana pengaturannya? Kau tau, teman? Kaulah bagian dari pengaturan tersebut. Kau yang

Kata-kata Seorang Gadis Kecil

Ketika masa lalu temanmu berjalan tanpa sepengetahuanmu, biarlah. Ini bukan berarti kau tak peduli. Hanya saja ingin menyamakan langkah dengannya seraya membahas perihal apa saja yang telah terjadi padanya. Tertinggal suatu berita sudah biasa. Bagaimana dengan perkembangan seseorang yang begitu dekat denganmu seperti sahabat? Merasa terjauhi itu yang terasa. Tidaklah serupa apa yang terlihat dengan yang terasa. Karena seringkali penglihatan dapat ditipu daya. Bukan juga membenarkan prasangka hati. Yang ingin disampaikan hanyalah mencoba mendekati. Tidaklah lupa dengan niat yang tulus. Karena biasanya, niatan dengan keinginan saling bersaing dan tidak dapat melampaui tujuan yang seharusnya dicapai. Membesarnya ego tatkala salah satunya bersalah dan tak mau meminta maaf. Bosan kilahnya. Solusi tidaklah terdengar bosan. Justru menjadi penyembuh bagi penderitanya. Apalah arti kata-kata dari mulut seorang gadis kecil ini. 

The Reminder of Mistake

Mengoreksi diri sendiri, berkaca pada diri sendiri, dan banyak lagi sebutan lainnya dalam bahasa Indonesia. Spesialnya, dalam bahasa Arab yang biasa disebut muhasabah. Masih asing dengan kata ini? Wajar, belum belajar bahasa Arab. Bukan pamer, tapi yang nulis juga lagi belajar meski bolong-bolong, hihi. Sering banget bukan kalimat semacam diatas terkumandangkan dimana-mana pas terjadinya suatu konflik. Yah, itu sudah biasa. Yang gak biasa, yang ngomong gak ngaca diri sendiri *wuidih, sadiss banget katanya... Dengan kesempatan yang limit ini mudah-mudahan postingan yang sebenarnya gue alami sendiri bermanfaat bagi sobat sekalian!  Problem will always come in your life. Semua orang pastinya pernah merasakan hal ini. Seakan-akan masalah tersebut ogah banget buat pergi. Atau bahkan ada orang yang gak punya masalah sama

Pacaran Masih Jaman?

Sebuah percakapan singkat. Gue coba buka dengan sepupu gue yang bernama si Kadal (samaran yo). Nah, gue lagi pusing-pusingnya tuh nyari cara buat ngasi tau dengan tegas ke temen-temen gue yang masih pacaran buat segera ninggalin aktivitas itu! Gue sambilan aja nukil kitab sambil mikir itu dikamar. Sepupu gue lagi seru-serunya bbm-an. Gue resah, masih mikirin masalah yang sama. Walhasil dengan berbekal cerita teman, gue membuka obrolan tentang pacaran. Iya, dampak negatifnya. Sebelumnya gue sindir dulu si Kadal, tentang hari kemudian yang nantinya dia bakal gendong keponakan gue, hihiw. Belum siaplah, inilah, itulah. Yang baik bakal dapet yang baik, dan sebaliknya. Lu males sekarang, besok suami lu dikasi makan apaan? Dan segala tetek bengek simpel yang gue tau tentang "hari esok" itu. Sambil guyon plus ketawa-ketawa nih gue ngebahasnya sama dia. Terus, gue sambung deh sama cerita temen gue tentang pacarnya. Pacaran sekarang kalah-kalah suami

The Choices

Selalu menyenangkan memang jika bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, bukankah begitu? Dan gue juga berusaha untuk bisa mengikuti semua kegiatan yang khususnya keluarga gue adakan. Tapi, kadang gue butuh waktu buat sendirian menyelesaikan banyak hal yang sudah direncanakan sejak awal, dan seringkali pula gue merasa lebih mengutamakan acara keluarga tersebut meski hanya "menonton tv" ya menonton. Agak sedikit merasa menyesal juga sebenarnya. Walau begitu, gue tetep kekeuh ikuut acara keluarga kecil-kecilan itu. PKL atau Praktek Kerja Lapangan terasa sedikit memberatkan bagi gue, ketika baru-baru menjalaninya. Karena memang, waktu yang dihabiskan sangatlah banyak, bung! Dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Dari situ, waktu gue mulai padet banget. Rata-rata kegiatan yang udah gue rencanain terpaksa dibatalin dikarenakan gue capek banget, hehe. Walhasil, berkumpul dengan acara keluarga juga begitu sulit.

Different Shortcuts

Alhamdulillah di waktu senggang yang sangat jarang kumiliki ini, dapat tercurah berbagai macam emosi negatif dan positif yang bercampur baur tanpa adanya sekat pemisah. Beberapa hari yang kumiliki sebelumnya terasa terbuang percuma, jika saja perkataan melalui tulisan ini dibaca tentu seisi rumah akan berlomba-lomba menjitak kepalaku. Karena tidak sepenuhnya terbuang, hanya saja berbaring serta berusaha untuk sehat terasa begitu-begitu saja, sungguh tidak bersyukur perempuan ini. Begitulah, seakan hidupku diberi selotip berukuran besar, kemudian menutupi semua celah yang ada di rumahku. Tak pernah keluar, tak pernah bertukar pesan maupun kabar, tak pernah online, ya seperti itu. Sehingga ketika mendapat kesempatan online, yang kudapat malah rasa kecewa serta kebencian terhapad diriku sendiri. Aku sudah tertinggal jauh. Sangat jauh dari mereka yang telah melanjutkan hidupnya dengan berbagai macam aktivitas. Aku malu. Aku tidak tahu apa-apa. Semua

Kisah Sebuah Hadiah (3-tamat)

Terpisah jarak pada daratan. Akan tetapi masih jelas teringat bagiku tanggapanmu akan hadiah sederhana yang keberikan padamu. Respon yang sama sekali tidak kuharapkan. Benar-benar mengecewakan. Tapi apalah arti pandanganku mengenainya yang begitu sangat sulit untuk dipahami, jika kau sangat ingin memahaminya. Bagiku, sulit sekali membaca lembaran hidupmu, karena aku begitu ingin sekali membacanya sampai-sampai lupa akan tujuanku untuk berusaha memahamimu. Itulah yang sedang terjadi, aku menganggapmu begitu sulit. Sepertinya tidak, jika aku dapat mengenali tujuanku kembali. Well, udah cukup lama gue pikirin gimana baiknya tamatnya cerita kali ini. Semakin lama gue pikirin, jujur gue makin pusing dibikin. Soalnya cerita cinta beginian makin rumit kedepannya, karena memang belum ada tujuan pasti dari kenapa gue harus ngejalanin ini. Haha, terlihat labil gue ya? Sudahlah, makin dibahas makin labil, mending gak usah dibahas aja yaak! xD Yah, gue ngerti banget ini bukan ending paling b

Palu Godam

Posisi seperti ini, kurasa hanya dua kali kuulangi. Dan saat ini yang kedua. Ketika akan duduk, teringat kembali aku kepada Kulkas. Ya, dia. Karena posisi pertama kulakukan saat sedang berbincang dengannya. Maksudku lewat telepon. Dan itu benar-benar waktu yang sama dengan sekarang, yakni hari-hari setelah lebaran. Mungkin pada hari itu, tepatnya pada malam hari setelah selesai pelaksanaan shalat ied. Masih melekat kuat ingatan itu. Ah, seandainya ada recycle bin atau semacamnya untuk menghapus ingatan-ingatan seperti ini. Kemungkinan sekarang aku hanyalah seorang gadis tanpa perasaan. Selalu ada positif dan negatifnya kegunaan suatu hal. Menjadi pelajaran juga bagiku, agar keesokan harinya anakku tidak menjadi sepertiku. Bosan yang sedang kurasa ini sangat menyebalkan!

Happy Ied Mubarak!

Sungguh indah hari ini. Berakhirnya bulan dimana setan-setan dikurung, agar manusianya dapat melakukan hal-hal baik tanpa adanya niat yang melenceng. Hari ini, tepatnya tanggal 1 Syawal 1435 H, hari yang terkadang ditunggu dan tidak oleh masyarakat muslim diseluruh dunia. Tidak ditunggu? Yang menandakan bulan suci telah berlalu, bulan yang memudahkan manusia dalam berbuat kebaikan. Sebulan penuh sudah berlalu dalam melatih pribadi-pribadi muslim saat ini. Sebulan penuh yang telah dihabiskan untuk mengisi kembali amunisi muslimin dan muslimat untuk menjalani sebelas bulan berikutnya. Sebulan penuh berlelah-letih dengan membaca kitab suci-Nya, mengagungkan nama-Nya, berlomba-lomba berbuat kebaikan karena-Nya, bersedekah dengan balasan tak terhingga yang diberikan oleh-Nya. Sebulan yang terlihat adalah sebuah waktu yang panjang pada awalnya dan terasa hanya beberapa menit ketika berlalu. 

Pengalaman Berhijab

Susah bagiku untuk menjelaskan apa saja yang sudah terjadi selama beberapa hari terakhir ini. Banyak sekali kurasa. Mulai dari praktek kerja lapangan hingga masalah perjodohan yang sangat konyol. Alhamdulillah, besok aku sudah libur praktek. Sehingga dapat meluangkan waktu untuk menyalurkan hal-hal yang sudah sangat tidak sabar untuk segera keluar dari otakku. Begitulah aku, menyimpan semuanya dahulu baru kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan. Mungkin saja, beberapa orang yang membacanya merasa sejalan denganku atau tidak, tujuanku hanya untuk meringankan isi otakku saja. Terkesan egois? Bukan begitu, aku ingin agar pembaca menarik suatu kesimpulan dari kisahku ini, agar hal yang mungkin terjadi pada mereka bisa diminimalisir akibatnya. Sebelumnya, ingin sekali kuceritakan kisah temanku. Dia perempuan, tentu saja. Namanya Meri, entah dengan "y" dan dobel "r", aku tidak begitu tahu. Dia memiliki pengalaman, yang menurutku lumayan menyesakkan melalui sudut

Naluri yang Kelaparan

Sibuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang "berisi" membuatku hampir tak sempat merasakan bagaimana rasanya remaja menjalani masa-masa mereka. Salah satunya, cinta. Sejujurnya, aku sengaja melakukan semua kegiatan itu di waktu liburan yang agak panjang ini. Berniat untuk memfokuskan diri pada sesuatu yang lebih penting. Menyampingkan perasaan hati yang seakan haus akan kasih sayang orang lain selain keluarga. Naluri ini belum mempunyai "makanannya". Tidak bisa dibiarkan ia melahap apa saja yang ada dihadapannya. Haruslah dipilah terlebih dahulu, dibersihkan dari kotoran dan dimasak dengan baik. Dan untuk menahan rasa laparnya -salah satunya caranya- dengan puasa. Di bulan Ramadhan yang sangat indah ini, sangat membantu sekali bagi raga yang ingin mendapat walau sejumput rasa itu. Aku merasa sendirian melakukan ini semua. Karena memang, sudah lama sekali tidak kuhubungi teman-temanku yang sedang bersama keluarganya sekarang. Merindukan mereka, ingin berbagi kisah a

Ringan dan Bermanfaat

Ternyata berbincang dengan kakak itu menyenangkan ya? Kemarin rasa ragu sempat mendatangiku. Sebelumnya aku mengeluh kepadanya, mengapa membicarakan hal yang tidak penting justru terasa lebih mengasyikan? Hal-hal yang sama sekali tidak berdampak setelah dibicarakan. Karena memang tidak ada ilmu yang terselip disana, kurasa. Kecuali mungkin bagi orang-orang yang memiliki kesulitan dalam berkomunikasi layak mencobanya dengan hal ini. Akan tetapi, menurutku sekali lagi, lebih baik melatihnya dengan mendiskusikan hal yang bermanfaat. Selain bersosialisasi juga dapat menyampaikan suatu hal yang berguna ke depannya. Dan aku sedang mencoba menerapkannya. Masih susah memang, tapi hal bagus apa sih yang tidak susah jika tidak dilatih?

Kesunyian Ramadhan 2014

Suasana pagi di hari dan bulan yang berbeda memang benar-benar mempunyai dampak yang magis bagiku. Dan dalam beberapa hari terakhir banyak kegiatan yang harus kulakukan untuk mencapai suatu tujuan bermanfaat di kemudian harinya. Sepertinya contohnya, kedua mataku silinder 1/4. Meski hanya sedikit, ketahuilah bahwa hal ini lumayan akan mengganggu jika kau harus memperhatikan sesuatu yang jauh dalam waktu yang singkat. Program sederhanaku selama liburan ialah melihat pemandangan. Lebih lebarnya lagi, yaitu memfokuskan mata pada suatu objek  yang berjarak agak jauh dalam beberapa menit. Karena dari artikel yang kubaca, mata minus maupun silinder akan terus bertambah jika melihat jarak dekat selalu dilakukan. Dengan kata lain, kalau aku bisa mengatur kapan saja harus melihat jarak dekat dan jauh akan meminimalisir meningkatnya masalah mata ini.

Kisah Sebuah Hadiah (2)

Ku pasang sepatu sehabis keluar dari lab dan bergegas menuju tempat berkumpul yakni di bawah tangga di depan kelas belajarku. Aku meyakinkan diriku, bahwa dia –lelaki baik itu– tidak akan ada disana. Mustahil, karena seingatku teman perempuanku yang terakhir tadi mengatakan ekstrakulikuler yang diikutinya mengadakan rapat untuk anggotanya dan si laki-laki itu termasuk. Ku coba menggali-gali ingatanku, kapan dan pukul berapa mereka akan rapat agar aku tidak bertemu dengannya. Sepertinya sekarang rapat mereka sedang berlangsung. Ya, mereka sedang rapat sekarang, ucapku yakin. Akan tetapi hatiku tidak sebegitu yakinnya dengan pikiranku, karena entah bagaimana tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya. Kemudian, rasa ragu menggodaku. Bagaimana jika dia ada disana? Akan tetapi mereka seharusnya sedang rapat. Jadi, tidak ada alasan untuk itu. Ku mantapkan langkah untuk menyingkirkan pikiran-pikiran aneh ini.

Kisah Sebuah Hadiah (1)

Hari ini merupakan hari yang biasa saja sepertinya. Bagi orang-orang yang sama sekali tidak mirip denganku. Bayangkan saja, mantan kekasihmu ehm atau sebut saja seseorang yang baik di masa lalumu berulang tahun pada hari ini. Dan mungkin ini satu-satunya cara agar aku bisa berkomunikasi lagi dengannya. Mengucapkannya selamat ulang tahun. Hal ini cukup menguras otak juga ternyata. Karena untuk membuat hadiah yang tepat, tentu kau tak ingin seorang pun tahu akan rencanamu ini. Begitu pula aku. Ketika sampai di sekolah, pikiranku hanya tertuju pada satu tempat. Lab. Dimana aku mendapatkan tegangan listrik untuk menghidupkan komputer jinjing tua ini, baterainya sudah tak sanggup menyala sendiri. Tololnya aku, memilih tempat duduk biasa layaknya belajar setiap hari. Dan bangku-ku terletak di tengah. Tengah. Meja kedua dari depan dan meja ketiga dari kiri. Jumlah baris bangku dari depan berkisar 8 bangku. Bukan berkisar, tetapi memang 8 bangku.

Aku

Kepalaku terasa gamang, tidak seperti biasanya. Bahkan kali ini perjalanan hidupku seakan tampil di hadapan orang banyak, layaknya film di bioskop aku pun turut menyaksikannya. Entah mengapa sensasi yang kudapatkan setelah menontonnya diluar dugaanku. Mataku, tubuhku tak mau bergerak berdasarkan perintahku. Mereka hanya diam terpaku pada posisi masing-masing. Mungkin ini yang dinamakan galau. Tapi bukan begini menurutku. Bagai seseorang yang kehausan, aku mencari kasih sayang dimana pun aku berada. Mengenaskan sekali bukan? Aku tidak bohong.

Hujan Berhenti

Hujan ya. Salah satu cuaca favorit saya sebenarnya. Dingin kelam. Terlihat jahat, namun sebenarnya baik. Memberi minum kepada para tanaman yang sedang kehausan. Sejuk udaranya membuat mata kian rindu akan pelukan selimut. Hangatnya tempat tidur terngiang-ngiang di dalam kepala. Duh, kok ngelantur sih. Oke deh, jujur aja. Lagi kurang suka kata hujan akhir-akhir ini. Karena habis hujan namanya jadi reda. Mengingatkan saya pada nama seorang laki-laki bermata sipit. Cukup menyiksa. Awal menjalani hari, gak ada kepikiran sedikitpun tentang laki-laki itu. Datang ke sekolah dan berkumpul bersama teman, teringat sedikit kepadanya. Apa karena faktor satu sekolah? Apa karena dia laki-laki pertama yang saya perhatikan di sekolah ini? Cukup-cukup. Membuat postingan ini sejatinya mengingatkan saya lebih dalam lagi. Oke, sudah cukup. Gak berani berharap banyak bisa ketemu sama dia di lain waktu. Ketemu di sekolah pun rasanya sekali seminggu apalagi nanti ketika prakerin dimulai. Hmm, ayo jangan t

Kataku Padamu

Bertemu denganmu bukan harapanku. Bertemu denganmu bukan bagian dari rencanaku. Sepeda serta keluarga yang serderhana tak pernah membuatku memandang rendah dirimu, kau tahu. Masih berharap padamu itulah aku. Tak tahu apa yang kau rasakan, itulah yang sedang terjadi padaku. Kecewa denganmu, itu juga yang terasa padaku. Tak tahukah kau, yang ku inginkan sebenarnya adalah isi kepalamu berubah! Hanya itu. Memberatkan bagimu? Untuk kebaikan dirimu semata suliltkah bagimu? Hanya itu inginku. Sepeda, ku suka itu lebih dari sepeda motor. Sebabnya sepeda tak mengeluarkan polusi yang menggangguku. Keluarga sederhana, ku ingin seperti itu lebih dari apa pun. Bersama adik dan ayah dalam satu perjalanan.

Lihat gambar dibawah ini

Sekarang ane ngerasa ada yang beda dari yang dulu. Sudut pandang. Mungkin itu. Saat itu, yang dulu sekali, pikiran ini pendapat ini hanya sebatas perkiraan saja. Dimana perkiraan bisa dikaitkan dengan perasaan, yang terkadang tidak masuk diakal. Mulai pusing? Oke, itu normal. Merasa berbeda karena usia pun turut berbeda yang memaksakan raga ini untuk memahami sesuatu yang sulit untuk dipahami. Merasa bodoh, tak mengerti apa itu saat itu juga. Lalu, tersadar bahwa ilmu tidak akan diraih oleh dengan kebosanan atau merasa cukup. Ilmu juga membutuhkan waktu untuk dipahami. Ilmu, sesungguhnya untuk apa ilmu itu. Mampukah menuntun jiwa ini ke syurga-Mu? Jalan yang benar-benar berbeda. mungkin saja ini banting setir dari tujuan semula. Yap, semua berawal karena ketidaktahuan yang berharga ini. Sombong diri ini merasa mengetahui segalanya, ketika suatu pertanyaan menghampiri membuat bibir tak mampu berbunyi.

They are your sister

Jangan salahkan mereka. Kau yang mempunyai kendali atas ini! Mereka boleh "menginjak"mu, tetapi kau tak boleh membenci mereka. They are your sister. They need your support. Mereka sama sekali tidak mengintimidasimu, akan tetapi perasaan tak bisa selalu ditahan. Kau bersyukur mereka berusaha merubah diri mereka. Perkataannya mungkin tak selaras dengan pemahamanmu. Yakinlah, mereka juga sama sepertimu. Masa lalu merupakan percobaan terbaik. Tanpanya tak mungkin kau menginginkan perubahan.  Dia yang dulu dan sekarang sebenarnya sama saja. Yang membedakan hanyalah pemahamannya yang juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tak bisalah kau menyalahkan dia yang terlanjur terperosok.

Yang Pertama

Orang-orang itu pernah mendapat posisi terdekat dalam hidup saya. Akan tetapi, akhir-akhir ini sering teringat kepada mereka yang sekarang berbeda jalur dengan tujuan yang sama. Ingin memberitahu jalan pintas, namun tak kunjung mendapat sinyal penerimaan. Luka hati disebabkan menjauhnya mereka atau saya menjauhkan diri dari mereka. Ketika mereka menemukan jalan baru yang lebih cepat, ingin rasanya menerima kabar. Kecewa dan sedih ketika berpikir, "Mengapa harus saya duluan?" Lalu tepukan halus menyapa bahu ringkuh ini. Senyuman. Kebaikan tak pantas disembunyikan.

For You

Untuk Maulida Audina Wulandai Maafkan saya teman. Saya lalai dalam memperhatikanmu sehingga kau berpaling dan mencari sosok yang memperdulikanmu. Maafkan saya ketika kau berbuat salah, menjauhimu menjadi pilihan yang terpilih. Maafkan saya, ketika kau memulai suatu percakapan dan tindakan yang terlihat saat itu mengacuhkan perkataanmu. Maafkan saya, menyadari perbuatan salah ini dalam rentang waktu yang lama. Rindu hati ini akan keberadaanmu di antara teman lain. Sosokmu hilang ketika kami biasa berkumpul dan kau menghidupkan waktu bersama dia. Maafkan saya, ketika ingin menegurmu perkataan ketus justru terlontar dari lidah ini. Maafkan saya, mendiamkanmu dengan tidak memberimu kesempatan. 

Putus ~

Kali ini gue pengen share pengalaman gue. Yap, gue baru habis putus. Putus dari orang yang sangaaaat gue sukai. Pedih sih tapi, gue harus bisa memantapkan pilihan, bukan? Rasanya habis putus itu actually biasa aja. Karena gue sama dia, gak terlalu sering kontakan, ketemu juga senin kamis a.k.a jaraaang banget. Jadi, ketika putus rasanya itu yahh ada yang kurang dikit. Just it. Sebenarnya apa sih yang bikin gue mau putusin dia? Duilee... maklum temen-temen udah pada tau gue itu naksir beraat sama sebut aja Dedemit. Alasannya itu, bukan karena gue udah baca buku karangan ustadz Felix yang berjudul Udah Putusin Aja. Bukan. Gue sudah tau dari dulu, kalo pacaran itu dilarang oleh Islam. Siapa itu Islam? Seenak jidat ngelarang-larang.