Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

The Levels

Sekarang juga gue ngerasa gak sekuat dulu. Setebal dulu. Dulu... iya, dulu... Banyak sekali yang telah berubah. Ingin rasanya kembali ke masa itu lagi. Saat tidak tahu. Mungkin berpura-pura untuk tidak tahu. Menyenangkan rasanya. Sesudah itu penyesalan yang ada. Dulu, ketika semua masalah seakan-akan memaksamu untuk menjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi padamu. Itulah letak terkenangnya. Ketika akhirnya kau bisa melewati level tersulit yang pernah kau jumpai. Dan sekarang disinilah kau, melihat kembali dirimu pada level yang telah kau lalui. Berharap kembali pada level itu, karena kau yakin akan terasa mudah dengan status levelmu yang berada diatas level sebelumnya. Kurasa, ini karena kau sedang tak ingin berada di level tempatmu seharusnya berada. Tantangannya terasa "hebat"-kah? Inilah, titik jatuhmu. Ketika tes levelmu memintamu untuk mengerjakannya dan kau belum mempersiapkan dirimu sehingga tanpa sadar kau ingin untuk tidak mengikuti tes itu sama sekali. Bisak

Sekilas Membekas

Yang sekilas lebih membekas. Setiap hari wajib banyak banget aktivitas yang harus gue lakuin. Pernah sampai-sampai gue mikir, setelah ini selesai pasti gue bisa santai. Nyatanya nggak sama sekali! Aktivitas itu malah kian bertambah setiap harinya. Persis sama hal yang gue rasain sama kajiannya Ust. Felix Y Siauw tentang Life Is A Choice. Berawal dari SD. Anak SD ngerasa aktivitas anak SD itu banyak. Jadi dia berharap cepat-cepat lulus dan masuk SMP supaya kegiatannya juga berkurang. Yang terjadi? Semakin bertambah tentunya. Makalah, tugas-tugas kian menumpuk. Tidak berkurang, bukan? Kemudian, dia berharap lekaslah selesai masa SMP agar menapaki masa SMA yang sekiranya tidak begitu sibuk. Dan ternyata, lebih-lebih sibuk lagi. Kemudian, berharap lagi masa SMA berakhir dan menuju jenjang perkuliahan yang mendapat waktu untuk bersenang-senang. Begitukah? Tentu tidak. Setelah kuliah, berharap mendapat aktivitas yang lumayan lenggang ketika kerja. Tidak sama sekali. Dan sampailah pad

A Scar

Luka sebagaimana definisi umumnya menimbulkan rasa sakit bagi si penderitanya. Perih, si luka kerap kali berdenyut-denyut tanpa henti. Kau tau, sistem tubuh memperbaiki luka itu. Menumbuhkan sel-sel baru padanya. Dengan kata lain perlahan-lahan menuju kesembuhan.  Layaknya luka, setiap hati pun begitu. Entah patah atau robek, kau tak pernah tau. Tanpa pernah terluka hati tak akan memperkuat bagian-bagiannya. Bahkan menciptakan sesuatu yang baru. Pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, ada satu keping puzzle yang terlupa. Bagaimana caranya? Untuk luka sudah ada sistem yang mengatur. Lalu, bagaimana dengan hati yang entah dimana pengaturannya? Kau tau, teman? Kaulah bagian dari pengaturan tersebut. Kau yang

Kata-kata Seorang Gadis Kecil

Ketika masa lalu temanmu berjalan tanpa sepengetahuanmu, biarlah. Ini bukan berarti kau tak peduli. Hanya saja ingin menyamakan langkah dengannya seraya membahas perihal apa saja yang telah terjadi padanya. Tertinggal suatu berita sudah biasa. Bagaimana dengan perkembangan seseorang yang begitu dekat denganmu seperti sahabat? Merasa terjauhi itu yang terasa. Tidaklah serupa apa yang terlihat dengan yang terasa. Karena seringkali penglihatan dapat ditipu daya. Bukan juga membenarkan prasangka hati. Yang ingin disampaikan hanyalah mencoba mendekati. Tidaklah lupa dengan niat yang tulus. Karena biasanya, niatan dengan keinginan saling bersaing dan tidak dapat melampaui tujuan yang seharusnya dicapai. Membesarnya ego tatkala salah satunya bersalah dan tak mau meminta maaf. Bosan kilahnya. Solusi tidaklah terdengar bosan. Justru menjadi penyembuh bagi penderitanya. Apalah arti kata-kata dari mulut seorang gadis kecil ini.