Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Afwan Jiddan...!

Alhamdulillah masih diberi kesempatan mengecap manisnya semua nikmat ini. Yah, langsung aja, saya mau meminta maaf atas beberapa postingan saya yang agak nyeleneh khususnya untuk masa jahiliyah saya dulu. Sewaktu pacaran itu “hal biasa” bagi saya. Nah, itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Jadi agak aneh mungkin ya kesan para pembaca yang pernah mampir dan membongkar tuntas isi dari blog saya. Kok dulu isinya cinta-cintaan sekarang berubah jadi Islami gitu. Hijrahnya seseorang bisa dilihat dari perubahannya termasuk postingan yang ada di blog. Mungkin itu aja, saya meminta maaf sebesar-besarnya dan melarang para pembaca untuk meniru apa yang telah saya lakukan. Baik itu yang tentang pacaran atau hal lain yang tidak baik jika ditemukan di dalam salah satu postingan. Afwan Jiddan, Gomenasai! ^^

Betapa Malunya...

Akhir-akhir ini rasa malas kembali menjeratku. Kali ini ikatannya terasa lebih kuat, mampu mempengaruhi perasaanku. Sehingga rancangan kegiatan yg sudah direncanakan oleh pikiranku tidak kuasa menahan gejolak perasaan yang setiap hari kian bertambah. Bahkan mengendalikan. Mungkin ini yg dinamakan terjajah oleh diri sendiri. Ya, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Walau sebenarnya yg berperan disini adalah ketidakmampuan diri dalam menyeleksi apa yg tidak penting dan sangat penting.

Perasaan yang Syar'i

Sebuah rasa yang mendesir halus dan membuat pelakunya merasa melayang. Beneran melayang, perasaannya maksudku. Seolah-olah badan pun turut berada diatas tanah, tapi bukan seperti hantu perempuan berambut panjang itu. Ini hanya perasaan yang membuat badan serasa melayang. Gampang saja sih untuk bisa merasakan hal "melayang" itu. Bisa dengan menonton kisah romatis, membaca novel picisan, bahkan mengalaminya secara langsung. Mudah bukan? Walaupun ketika menyaksikan hal tersebut bukan kita yang menjadi tokoh utamanya, tetap saja perasaan halus itu akan datang. Menari-nari menggelitik perut! Kata seorang penulis ketika menjabarkan bagaimana tanda-tanda perasaan merah jambu itu merasuki diri. Bodoh sekali rasanya bukan, ketika kita merasakan ada yg salah namun kita sendiri tidak tahu apa itu dan terus-menerus merasa segala hal berjalan terasa salah? Itu sedang terjadi padaku. Perkara cinta? Oh, tidak sama sekali. Tidak ada terbersit wajah seorang lelaki pun saat ini. Bingung dan

Tersentak

Diawali dengan malam yg begitu rumit sehingga menjadi langkah terlambat bagi saya saat mendatangi mata kuliah bahasa inggris. Secara singkat sih, sy telat 3-5 menit. Dan dosen sudah duduk manis di depan, berbeda sama dosen-dosen sebelumnya. Lumayan nyaman cara beliau menyampaikan pendahuluan. Tapi inti postingan ini bukan bahas dosen kok. Bergegas mencari kakak tingkat untuk mendaftar kuliah informal, tujuan saya selanjutnya. Turun dari lantai teratas ke bawah yaitu lantai tiga dengan manual alias tangga. Kebetulan banget saya bawa anak lagi (baca: laptop).

Agar Lelah Menjadi Berkah

Padatnya jadwal aktivitas harian, pastinya membuat badan lelah. Bahkan gak jarang setan meniupkan bisikan mautnya. "Sudah berhenti aja. Toh kamu masih muda. Sekarang waktunya santai-santai. Ngapain capek-capek ngurus ini itu. Udahlah, masih banyak orang lain kok." Yap, bisikan halus begini kadang ampuh membuat kita mundur dari sibuknya kegiatan, entah itu sekolah atau non-sekolah. Malah rasa bosan tiba-tiba aja nyamperin, trus minta kita untuk menunda kewajiban. Manusiawinya manusia ya kayak gitu. Insya Allah semua yg baca postingan ini manusia kan ya? ^^

Udah Berteman Aja!

Bercerita sedikit tentang pengalaman ospek kemarin (hari kedua). Meskipun sudah berkenalan dengan beberapa MaBa tetep aja, sisanya yg berjumlah ribuan belum tersentuh perkenalan. Hihi, rakus sekali mau kenal semuanya. Gak gitu juga kali. Nah, temen SMK saya bilang kalo saya ini banyak sekali temennya. Padahal jujur aja, kalo dihitung kurang dari sepuluh orang! Kenapa bisa terlihat banyak ? Oke, sy gak bermaksud menyombongkan diri, tapi lebih ke membahas bukunya Ust. Salim A. Fillah yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah. Di buku itu dibagi dalam beberapa bab yg isinya mengenai ukhuwah atau hubungan antara sesama. Dimana ketika baca ebook (hehe belum bisa beli) itu, perilaku dan sifat saya tersindir semua. Yang berkaitan dalam ikatan pertemanan atau perkenalan berdasar cerita saya adalah Yang Tertarik Itu Menarik.

OSPEK and Our Meeting, Fellas!

Hari ini OSPEK Universitas! Wuih, rame bener auditorium dibuatnya..! Banyaknya siswa yang berasal dari beragam daerah, tentu dengan logat bicara yang mereka gunakan. Perasaan ini sungguh asing. Maksudku, keadaan yang terlalu ramai ini lebih membuatku pusing! Karena jarang sekali aku mengikuti acara yang jumlah orangnya sebanyak ini. Sekitar ribuan orang. Walaupun ketika di SMK-ku dulu muridnya berjumlah ribuan, tapi ini berbeda. Orang-orangnya sangat tidak banyak kukenal. Hal inilah yang membuatku seakan melangkah keluar dari zona nyaman dan aman.

Menghafal Qur'an? SERU!

Banyak banget keluhan yang sering terdengar dan terbaca dimana-mana. Masalahnya gak lain gak bukan ya tentang menghafal. Kenapa ya hafal lagu itu lebih cepet plus gampang daripada hafalin pelajaran sekolah? Kenapa ya hafal Al Quran susah banget dibandingin sama lirik lagu penyanyi X? Kenapa ya? Semuanya berujung pada kenapa dan dibandingkan dengan sesuatu yang emang terlihat lebih mudah untuk dihafal. Oke, kita bongkar dulu alasannya kenapa bisa kejadian kayak gitu.

Kebiasaan Menulis

Perasaan yang gak nyaman ketika memulai suatu kebiasaan dengan paksaan. Ini terlihat kurang baik bukan? Tapi tidak berlaku sama sekali dalam hukum produktivitas. Ini pengalaman juga sebenarnya. Saya punya suatu agenda khusus untuk diri sendiri. Yang kemudian saya berusaha untuk menepatinya dan menjalaninya. Coba tebak? Menulis catatan harian. Kayak dear diary gitu, Ndi? Waks! Gak begitu-begitu amat sih. Tapi intinya sama. Menuliskan kegiatan yang sudah dilakukan setiap hari. Tujuannya buat apaan? Kok kayak kurang kerjaan gitu? Ehm, terlihatnya ya "begitu". Tapi, ini agenda kan buat saya. Jangan sewot gitu dong... Cuma berbagi, siapa tau ada yang bisa diambil. Kalo nggak, ya jangan dan kalo salah tegur aja gak papa kok ^^

Perasaan dan Prasangka

Perasaan itu sungguh sangat relative sekali. Ia bisa berubah menjadi hal menyenangkan jika berhubungan dengan kebahagiaan. Seseorang yang sedang senang hatinya pun bisa berubah menjadi seseorang yang lain, berani melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dicobanya. Mempunyai semangat yang berkobar begitu hebatnya. Mendadak menjadi pemotivasi bagi yang lain. Begitulah sekilas, dampak dari perasaan. Namun, seringkali kita hanya bisa merasakan indahnya hidup jika telah mengalami hal-hal yang baik. Hal-hal yang menyenangkan. Hal yang memang selalu diinginkan oleh setiap orang. Bagaimana halnya dengan perasaan negatif? Jangan ditanya pun, sudah pasti banyak sekali jawaban yang akan terlontar untuk mendefinisikan hal ini.

Cara membuat Autorun dan Burning file beserta foldernya

Maaf, baru ngepost tentang tutorial lagi...! Dibutuhkan mood yang tepat untuk mengumpulkan materi plus mengetikkannya kembali. Sekilas info, tutorial ini saya dapatkan ketika ujian praktek sedang berlangsung dari guru pembimbing. Awalnya saya kira ini kayak dikasi contekan, tapi nggak kok.  Duh, udah gak tau mau ketik apa lagi. Ini dia tutorial menyetel CD-R autorun file video dengan foldernya. Maaf, kalau gambarnya tidak sesuai dengan kebutuhan pembaca, tapi insya Allah ini hanya contoh yang pada dasarnya bisa dimodifikasi lagi untuk file selain video.

Masalah Kepercayaan Diri yang Besar

Bertemu kembali dengan seorang teman. Mengetahui kabar masing-masing dan tidak lupa bertukar cerita seru yang telah terjadi. Mendengar dan mengalami itu menjadikan hari ini tidak terlewati begitu saja. Melainkan telah terjadi sesuatu dan itu tercatat sebagai rekaman kehidupan. Begitu banyak hal yang sudah terjadi, baik atas kehendak kita maupun diluar kendali kita. Biasanya dalam sebuah pertemanan terdiri dari berbagai macam karakter yang berbeda. Itu sudah pasti. Jikalau ada yang merasa mirip satu sama lain, itu karena mereka saling melengkapi. Yup, berwarna sekali kehidupan ini. Karakter yang begitu beragam membuat kita mengenal satu sama lain. Apabila sama, lalu apa yang berusaha untuk dikenal? Ada teman kita yang berwatak ceria, supel dan terbuka. Di sisi lain, ada juga teman kita yang sangat tertutup akan kehidupannya. Berwatak keras, mudah marah tapi merupakan orang yang suka melawak. Pemalu, percaya diri, kikuk, easy going , tulalit, dan lain sebagainya. Sudah banyak sekal

Pelatihan LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) TIK (1)

Sudah 2 hari, kami menginap di hotel. Rasanya? Tentu nyaman sekali! Aktivitas padat sedari pagi hingga sore mampu menghilangkan efek magis kamar hotel tersebut. Raga ini sudah terlalu lelah! Batin jangan ditanya. Hampir seharian, mental kami digempur habis-habisan. Karena sudah begitu lama menghabiskan waktu tanpa berhadapan dengan seorang ahli, sehingga ketika bertemu jantung ini serasa ingin cepat-cepat lepas dari tempatnya semula. Perutku tidak kalah berontak. Cacing-cacing mulai menggigiti bagian-bagian perutku tanpa ampun. Geli sekaligus sakit!

Jemari dan Hati

Rindu sedang dirasakan Jemari akan tombol-tombol pada keyboard untuk menyuarakan isi dari temannya yang bernama Hati. Mereka memahami satu sama lain. Terkadang Jemari membantu Hati dalam menyelesaikan berbagai macam masalah yang tiba-tiba diterima Hati, tanpa pernah Hati minta untuk datang atau muncul. Namun, sudah sebulan ini Hati tidak mengatakan apa pun pada Jemari. Mereka sudah lama tidak lagi berbincang bersama. Jemari khawatir akan suatu hal buruk yang menimpa Hati. Jemari selalu melihat Hati pada saat-saat lenggangnya. Hati terlihat murung akhir-akhir ini. Akan tetapi Jemari belum sempat menanyakan hal tersebut pada Hati. Jemari takut, pertanyaannya nanti akan menyinggung perasaan Hati. Karena, Jemari tahu, Hati sangatlah sensitif terhadap banyak hal. Jemari bahkan tahu, jika Hati mempunyai banyak masalah Hati akan diam seribu bahasa jika dibandingkan dengan Hati yang sedang bersenang cita. Ini satu hal yang sangat ditakutkan Jemari.

Punggungmu, Ayah!

Melihat punggungmu menjauh membuatku diriku seakan rindu. Kenangan beberapa tahun yang lalu tak pernah bosan mendatangiku disaat lelah maupun senang. Sudah beberapa hari ini kupendam perasaan ingin seperti dulu. Ketika membutuhkanmu selalu saja engkau ku panggil untuk membantuku. Tak peduli kau sedang sibuk atau tidak. Kalau hal itu masih memusingkanku, selalu kutanyakan sampai aku benar-benar memahaminya. Namun, sekarang. Ketika aku sudah mulai memasuki bangku kelas 2 SMK. Engkau seakan membiarkanku mengerjakan semuanya dengan tanganku tanpa pernah kau bantu. Disatu sisi aku merasa bangga bisa menyelesaikan banyak hal dengan tanganku. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Hanya sebentar. Dan kembali kepada membutuhkanmu layaknya dulu ketika aku masih kesulitan menghitung pembagian angka sederhana.

Rasa Syukur Kerdil

Sulit sekali rasanya mengekspresikan perasaan ya. Tindakan yang terpilih justru sebaliknya, tidak menampakkan melainkan memperlihatkan sebaliknya. Begitu yang sedang terjadi pada saya. Iya begitulah. Sulit sekali memberitahukan bahwa raga ini sedang letih, sehingga jika ada kesalahan dalam kontak fisik justru amarahlah yang terlontarkan. Saya capek. Saya sedang capek. Tidak usah diganggu dulu, begitu perkataan dalam hati. Namun tidak terucapkan. Karena saya berharap agar dengan diamnya raga ini sembari berpura-pura membaca buku menandakan bahwa saya sedang melakukan sesuatu yang tidak untuk diganggu. Sederhana saja yang kebanyakan orang terkadang tidak memahaminya. Tentu saja, tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

I am not Better than Anyone Else

Di sela-sela waktu yang begitu terpadati oleh jadwal, disinilah saya. Mencuri-curi waktu untuk menuliskan perasaan. Hahaha, ini puitis sekali. Karena terkadang meskipun tidak menceritakan pada siapa pun hanya melalui tulisan saja, itu sudah cukup. Sulit mengakui bahwa usaha yang telah saya kerahkan masih belum cukup. Melihat yang lain lebih sukses daripada saya, itu agak menyayat hati. Ya, ini namanya penyakit hati. Suka merasa lebih baik daripada yang lain. Merasa lebih mampu dibanding yang lain. Merasa, terasa, ini masalah perasaan. Perasaan abstrak yang muncul pada waktu tak disangka-sangka pula. Seakan kuda liar perasaan ini, terkadang sulit sekali untuk dikendalikan. Hanya ingin dituruti saja tanpa mau mengikuti peraturan.

I am Eight Teen

Huh, curahan hati ini begitu banyak! Seringkali setiap menemukan suatu kesempatan, semua kisah berebutan untuk diceritakan. Dan karena saat ini si penulis blog menduduki kelas 3 SMK, semuanya terasa sangat padat. Entah dari jadwalnya, tugasnya, maupun kewajiban serta hak-haknya. Ini merupakan sesuatu yang sangat wajar bagi seseorang yang sudah bertambah umurnya. Bertambah pula beban serta tanggung jawabnya. Itulah yang sedang dirasakan oleh si penulis. Berat, capek, jenuh, bahkan terkadang suka mengeluh akan begitu banyaknya hal-hal yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam. Seakan waktu yang didapat kurang hingga hampir terasa tidak cukup.

My Problems >> The Feelings

The way you put your feelings may cause a trouble. Itu tepatnya buat saya. Seharian ini ngerasa aneh terus. Diawali dengan pagi yang agak amburadul karena telat bangun. Lalu, mengantar sepupu ke sekolah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Otomatis, peraturan yang saya terapkan setiap menggunakan motor yakni kecepatan 40km/jam saya langgar. Yah, ini darurat. Sesampainya di sekolah tercinta (karena lagi bentar mau lulus haha!) banyak siswa yang sudah berbaris. Crap!! Syukur aja pintu gerbangnya belum ditutup, itu aja sih. Wkwk, tapi ogah telat lagi. Gak enak! Rasanya tenaga yang habis 2x lebih banyak dari biasanya. Itu namanya pemborosan, *pelit mode on.

The Power of Istikharah

Berawal dari beberapa hari yang lalu, tepatnya hari sabtu tanggal 17 Januari atau 26 Rabiul Awwal. Beberapa orang laki-laki memasuki ruang kelas saya. Sebelumnya saya sempat menerka bahwa mereka merupakan orang-orang yang sedang mencari lowongan kerja di sekolah. Hahaha, asli sok tau! Ternyata mereka dari STIKI Indonesia di Bali. Sekarang kan lagi musim-musimnya promosi universitas. Maklum tinggal menghitung hari, saya dan rekan-rekan kelas 12 lainnya akan meninggalkan sekolah masing-masing. Otomatis banyak banget univ yang promosi ke sekolah-sekolah. Dan bisa dibayangkan, mas-mas yang promo jago banget ngomongnya. Gak heran deh, kalau banyak teman-teman saya yang tertarik. Karena, jujur saya pun tertarik. Entah dari gaya si masnya ngomong plus materi yang disampaikan itu benar-benar menarik hati ini!

Cara Melihat dan Menghapus Password di Google Chrome

Assalamu’alaykum Wr. Wb. Password pasti jadi masalah yang lumayan ribet. Apalagi saya yang termasuk terlalu “kreatif” dalam membuat password. Saya juga pernah bermasalah dengan memory card. Awalnya coba-coba supaya memory gak bisa diakses sembarang orang. Dan ternyata password itu belum aktif kalau masih ada di hp pemiliknya yakni saya. Keamanannya akan aktif di hp orang lain. Dan setelah 3 bulan lamanya, memory itu pun berpindah tempat. Dan pas saya akses kembali, passwordnya aktif. Password kreatif itu terlupakan, yah ini zonk -_- Bukan masalah password pada memory hp yang akan saya bagikan sekarang, karena emang belum ketemu jalan keluarnya, hehe. Tapi tentang password yang tersimpan di Google Chrome. Yaitu, tentang melihat dan menghapus password. Terus lagi, saya agak terganggu sama offering Google yang bermaksud untuk menyimpan password pada suatu website. Mudah-mudahan tutorial ini bermanfaat ^^

Maafkan dan Doakan :)

Terkadang, kita sebagai pribadi individu yang mempunyai seorang sosok bernama teman, jengkel atau bahkan marah ketika melihat teman tersebut melakukan kesalahan. Dan seringkali tindakan yang terambil adalah menasehatinya dengan cara memarahinya. Wajarkah? Lebih baik tidak punya teman daripada harus merasa sakit karena teman atau menahan diri dari melakukan suatu hal yang diinginkan kemudian malah mengerjakan hal lain hanya untuk membuat teman senang. Lebih baik sendiri. Bisa melakukan apa saja yang ingin dilakukan tanpa ada orang yang menghalangi atau tidak suka dengan apa yang sedang dilakukan. Bersama teman, kenangan terindah bisa terjadi. Akan tetapi sendirian lebih terasa semua keindahan. Karena tidak ada seseorang yang memaksa untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang dia miliki.