Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Story

Galah

Lelaki tinggi humoris itu selalu menyita perhatianku. Dibalik kejutekanku, selalu kuselipkan kesempatan untuk menatapnya dari balik layar komputer. Semua orang tahu bahwa dia memang selalu berlagak playboy. Meski faktanya, dia tidak pernah memiliki pacar sekali pun. Entah apa yang membuatku terpikat padanya. Apakah karena postur badannya yang tinggi? Atau karena sifatnya yang humoris? Keduanya mungkin benar. Tapi tetap saja, ada yang membuatku kecewa terhadapnya. Dia jarang shalat. Itu dia. Walau sudah tahu begitu, tetap saja guyonan sembarangnya selalu membuatku tertawa. Sebenarnya aku tidak ingin terjebak pada zona ini. Suka dalam diam. Rasa suka itu juga sedikit tercoreng setelah melihat kenyataan bahwa dia tidak terlalu peduli pada agama. Akhirnya kukatakan pada diriku sendiri. Daripada terus-menerus merasa seperti ini lebih baik rasa suka itu diganti menjadi rasa senang terhadap teman. Ya teman. Bila itu teman, rasanya tidak perlu canggung maupun sungkan. Merasa bi...

Dianolin (2): Dari Game hingga Brain

Dianolin meski saat ini lebih suka berpikir ilmiah, tetap masih menyukai anime. Namun, koleksi drama Jepangnya sudah ia hapus permanen dan tidak berniat untuk mengunduh ulang. Ada satu hal yang membuat Olin penasaran dengan anime yang satu ini, Sword Art Online. Anime ini menyajikan sebuah cerita yang berbeda berangkat dari impian para gamer dan perkembangan teknologi yang sangat pesat di tahun 2023. Argus pencetus game VRMMORPG ( Virtual Reality Massive Multiplayer Online Role Playing Game ) meluncurkan game Swort Art Online. Meski tidak begitu paham mengenai game , Olin tetap suka karena dunia seakan terlihat mudah dengan virtual game pada anime ini. Fokus Olin saat ini adalah bisakah virtual game itu diwujudkan dalam dunia nyata?

Dianolin (1): Kenyataan Lebih Menggiurkan

Ada sebuah kisah mengenai seorang gadis yang sedikit tersesat dengan peta kehidupannya. Nama gadis itu Dianolin. Kini ia sedang termangu bingung. Sudah habis dua episode drama Jepang ia tonton. Namun, perasaannya masih belum terpuaskan. Kisah ceritanya belum sesuai dengan keinginannya. Tapi ia menebak, pada akhirnya nanti pasti akan sama dengan yang diharapkannya. Hanya saja proses menuju episode akhir itu membuat hatinya jungkir balik. Ungkapan perasaan cinta mudah sekali diucapkan pemeran utamanya. Kali ini drama yang Olin –begitu sapaan akrabnya, sedang tonton bertemakan perjuangan seorang gadis mendapatkan laki-laki yang ia sukai. Berbagai hal dilakukan si gadis untuk membuat laki-laki itu menaruh perhatian padanya. Sia-sia saja, lelaki itu tidak sedikit pun menggerakkan bola matanya untuk melirik gadis itu. Olin merasa hal itu berkebalikan dengannya. Saat ini ada seorang temannya yang terlihat modus berulangkali padanya. Entah itu hanya menanyakan buku yang bagus untuk dibaca ...

Jangan Takut Sendirian

Perasaan tak nyaman bahkan hambar seringkali menghampiri sebuah persahabatan. Perbedaan watak dan cara berpikir turut menyertai. Bagi saya pertemanan itu menyenangkan. Di satu sisi menjadi bumerang. Dengan mereka kita menjadi taat. Dengan mereka pula kita dapat melakukan maksiat. Itu tanpa kita sadari, karena dengan mereka hati sudah terbiasa. Seakan tumpul peringatan yang diucapkan di telinga kita, karena melihat teman juga masih sama seperti itu. Kita melakukan pembenaran dari orang lain yang belum paham. Begitukah pertemanan? Pengalaman berteman semua orang sudah pernah mengalaminya. Entah semanis gula buatan atau sepahit cokelat sebelum diolah. Sama juga kayak saya. Menarik cara saya berteman dulu ketika masih di bangku sekolah menengah pertama. Diri saya seakan terbagi menjadi dua. Satu sisi ingin berteman dengan teman-teman yang gaul. Satu sisinya lagi berteman dengan teman-teman yang sederhana. Entah kenapa saya mulai begini. Kelas 1 SMP saya nggak membagi diri seperti kelas 2 ...

Nasihat Seorang Teman

Beberapa hari terakhir ini inget sama temen-temen SMK. Banyak kenangan bagus-bagus ternyata. Salah satunya ya orang ini. Sama dia saya masih dalam proses hijrah. Meski gak selalu bareng dia, tapi soal dukungan selalu dapet dari dia. Namanya? Hm, dikasi inisial atau nama asli ya. Dia ini kayak emak gitu buat saya dan teman yang lain. Keibuan dan full perhatian. Baiq Farmi namanya. Sewaktu kita berdua lagi sering-seringnya pantengin video ceramah Ust. Felix Siauw, saya ditegur sama dia. Dulu, saya itu kalo udah suka sama sesuatu pasti suka terus dan dicari tau tentang itu. Sama halnya kayak ceramah tadi. Saya lagi suka banget dengerin ceramah dari Ust Felix, bahkan nggak mau dengerin ceramah dari ustadz lain. Sampai akhirnya, Emi (panggilan singkatnya) minta tolong sama saya untuk dianterin ambil bajunya yang udah selesai dijahit. Di perjalanan, dia ngomong tentang saya yang nggak mau dengerin ceramah lain. Dia bilang itu namanya pengkultusan. Meski kebenaran disampaikan oleh beliau jan...

Jangan Takut Sendirian

Perasaan tak nyaman bahkan hambar seringkali menghampiri sebuah persahabatan. Perbedaan watak dan cara berpikir turut menyertai. Bagi saya pertemanan itu menyenangkan. Di satu sisi menjadi bumerang. Dengan mereka kita menjadi taat. Dengan mereka pula kita dapat melakukan maksiat. Itu tanpa kita sadari, karena dengan mereka hati sudah terbiasa. Seakan tumpul peringatan yang diucapkan di telinga kita, karena melihat teman juga masih sama seperti itu. Kita melakukan pembenaran dari orang lain yang belum paham. Begitukah pertemanan?

Menjadilah...

Dalam lembaran hari tertulis kisah-kisah perjalanan hidup kita sebagai manusia. Mau kita menyadarinya tertulis atau tidak, tetap saja itu akan menjadi suatu kisah nantinya. Asam hambarnya sudah seringkali kita rasakan. Setiap kita selalu membutuhkan pendamping. Tidak mesti berwujud pasangan hidup yang terikat dengan suatu perjanjian. Ini lebih sederhana. Seorang teman yang akan menemani kita saat ini juga ke depannya, jika bisa.

Tersentak

Diawali dengan malam yg begitu rumit sehingga menjadi langkah terlambat bagi saya saat mendatangi mata kuliah bahasa inggris. Secara singkat sih, sy telat 3-5 menit. Dan dosen sudah duduk manis di depan, berbeda sama dosen-dosen sebelumnya. Lumayan nyaman cara beliau menyampaikan pendahuluan. Tapi inti postingan ini bukan bahas dosen kok. Bergegas mencari kakak tingkat untuk mendaftar kuliah informal, tujuan saya selanjutnya. Turun dari lantai teratas ke bawah yaitu lantai tiga dengan manual alias tangga. Kebetulan banget saya bawa anak lagi (baca: laptop).

Udah Berteman Aja!

Bercerita sedikit tentang pengalaman ospek kemarin (hari kedua). Meskipun sudah berkenalan dengan beberapa MaBa tetep aja, sisanya yg berjumlah ribuan belum tersentuh perkenalan. Hihi, rakus sekali mau kenal semuanya. Gak gitu juga kali. Nah, temen SMK saya bilang kalo saya ini banyak sekali temennya. Padahal jujur aja, kalo dihitung kurang dari sepuluh orang! Kenapa bisa terlihat banyak ? Oke, sy gak bermaksud menyombongkan diri, tapi lebih ke membahas bukunya Ust. Salim A. Fillah yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah. Di buku itu dibagi dalam beberapa bab yg isinya mengenai ukhuwah atau hubungan antara sesama. Dimana ketika baca ebook (hehe belum bisa beli) itu, perilaku dan sifat saya tersindir semua. Yang berkaitan dalam ikatan pertemanan atau perkenalan berdasar cerita saya adalah Yang Tertarik Itu Menarik.

Kebiasaan Menulis

Perasaan yang gak nyaman ketika memulai suatu kebiasaan dengan paksaan. Ini terlihat kurang baik bukan? Tapi tidak berlaku sama sekali dalam hukum produktivitas. Ini pengalaman juga sebenarnya. Saya punya suatu agenda khusus untuk diri sendiri. Yang kemudian saya berusaha untuk menepatinya dan menjalaninya. Coba tebak? Menulis catatan harian. Kayak dear diary gitu, Ndi? Waks! Gak begitu-begitu amat sih. Tapi intinya sama. Menuliskan kegiatan yang sudah dilakukan setiap hari. Tujuannya buat apaan? Kok kayak kurang kerjaan gitu? Ehm, terlihatnya ya "begitu". Tapi, ini agenda kan buat saya. Jangan sewot gitu dong... Cuma berbagi, siapa tau ada yang bisa diambil. Kalo nggak, ya jangan dan kalo salah tegur aja gak papa kok ^^

Perasaan dan Prasangka

Perasaan itu sungguh sangat relative sekali. Ia bisa berubah menjadi hal menyenangkan jika berhubungan dengan kebahagiaan. Seseorang yang sedang senang hatinya pun bisa berubah menjadi seseorang yang lain, berani melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dicobanya. Mempunyai semangat yang berkobar begitu hebatnya. Mendadak menjadi pemotivasi bagi yang lain. Begitulah sekilas, dampak dari perasaan. Namun, seringkali kita hanya bisa merasakan indahnya hidup jika telah mengalami hal-hal yang baik. Hal-hal yang menyenangkan. Hal yang memang selalu diinginkan oleh setiap orang. Bagaimana halnya dengan perasaan negatif? Jangan ditanya pun, sudah pasti banyak sekali jawaban yang akan terlontar untuk mendefinisikan hal ini.

Pelatihan LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) TIK (1)

Sudah 2 hari, kami menginap di hotel. Rasanya? Tentu nyaman sekali! Aktivitas padat sedari pagi hingga sore mampu menghilangkan efek magis kamar hotel tersebut. Raga ini sudah terlalu lelah! Batin jangan ditanya. Hampir seharian, mental kami digempur habis-habisan. Karena sudah begitu lama menghabiskan waktu tanpa berhadapan dengan seorang ahli, sehingga ketika bertemu jantung ini serasa ingin cepat-cepat lepas dari tempatnya semula. Perutku tidak kalah berontak. Cacing-cacing mulai menggigiti bagian-bagian perutku tanpa ampun. Geli sekaligus sakit!

Jemari dan Hati

Rindu sedang dirasakan Jemari akan tombol-tombol pada keyboard untuk menyuarakan isi dari temannya yang bernama Hati. Mereka memahami satu sama lain. Terkadang Jemari membantu Hati dalam menyelesaikan berbagai macam masalah yang tiba-tiba diterima Hati, tanpa pernah Hati minta untuk datang atau muncul. Namun, sudah sebulan ini Hati tidak mengatakan apa pun pada Jemari. Mereka sudah lama tidak lagi berbincang bersama. Jemari khawatir akan suatu hal buruk yang menimpa Hati. Jemari selalu melihat Hati pada saat-saat lenggangnya. Hati terlihat murung akhir-akhir ini. Akan tetapi Jemari belum sempat menanyakan hal tersebut pada Hati. Jemari takut, pertanyaannya nanti akan menyinggung perasaan Hati. Karena, Jemari tahu, Hati sangatlah sensitif terhadap banyak hal. Jemari bahkan tahu, jika Hati mempunyai banyak masalah Hati akan diam seribu bahasa jika dibandingkan dengan Hati yang sedang bersenang cita. Ini satu hal yang sangat ditakutkan Jemari.

Rasa Syukur Kerdil

Sulit sekali rasanya mengekspresikan perasaan ya. Tindakan yang terpilih justru sebaliknya, tidak menampakkan melainkan memperlihatkan sebaliknya. Begitu yang sedang terjadi pada saya. Iya begitulah. Sulit sekali memberitahukan bahwa raga ini sedang letih, sehingga jika ada kesalahan dalam kontak fisik justru amarahlah yang terlontarkan. Saya capek. Saya sedang capek. Tidak usah diganggu dulu, begitu perkataan dalam hati. Namun tidak terucapkan. Karena saya berharap agar dengan diamnya raga ini sembari berpura-pura membaca buku menandakan bahwa saya sedang melakukan sesuatu yang tidak untuk diganggu. Sederhana saja yang kebanyakan orang terkadang tidak memahaminya. Tentu saja, tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

I am not Better than Anyone Else

Di sela-sela waktu yang begitu terpadati oleh jadwal, disinilah saya. Mencuri-curi waktu untuk menuliskan perasaan. Hahaha, ini puitis sekali. Karena terkadang meskipun tidak menceritakan pada siapa pun hanya melalui tulisan saja, itu sudah cukup. Sulit mengakui bahwa usaha yang telah saya kerahkan masih belum cukup. Melihat yang lain lebih sukses daripada saya, itu agak menyayat hati. Ya, ini namanya penyakit hati. Suka merasa lebih baik daripada yang lain. Merasa lebih mampu dibanding yang lain. Merasa, terasa, ini masalah perasaan. Perasaan abstrak yang muncul pada waktu tak disangka-sangka pula. Seakan kuda liar perasaan ini, terkadang sulit sekali untuk dikendalikan. Hanya ingin dituruti saja tanpa mau mengikuti peraturan.

My Problems >> The Feelings

The way you put your feelings may cause a trouble. Itu tepatnya buat saya. Seharian ini ngerasa aneh terus. Diawali dengan pagi yang agak amburadul karena telat bangun. Lalu, mengantar sepupu ke sekolah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Otomatis, peraturan yang saya terapkan setiap menggunakan motor yakni kecepatan 40km/jam saya langgar. Yah, ini darurat. Sesampainya di sekolah tercinta (karena lagi bentar mau lulus haha!) banyak siswa yang sudah berbaris. Crap!! Syukur aja pintu gerbangnya belum ditutup, itu aja sih. Wkwk, tapi ogah telat lagi. Gak enak! Rasanya tenaga yang habis 2x lebih banyak dari biasanya. Itu namanya pemborosan, *pelit mode on.

The Power of Istikharah

Berawal dari beberapa hari yang lalu, tepatnya hari sabtu tanggal 17 Januari atau 26 Rabiul Awwal. Beberapa orang laki-laki memasuki ruang kelas saya. Sebelumnya saya sempat menerka bahwa mereka merupakan orang-orang yang sedang mencari lowongan kerja di sekolah. Hahaha, asli sok tau! Ternyata mereka dari STIKI Indonesia di Bali. Sekarang kan lagi musim-musimnya promosi universitas. Maklum tinggal menghitung hari, saya dan rekan-rekan kelas 12 lainnya akan meninggalkan sekolah masing-masing. Otomatis banyak banget univ yang promosi ke sekolah-sekolah. Dan bisa dibayangkan, mas-mas yang promo jago banget ngomongnya. Gak heran deh, kalau banyak teman-teman saya yang tertarik. Karena, jujur saya pun tertarik. Entah dari gaya si masnya ngomong plus materi yang disampaikan itu benar-benar menarik hati ini!

Maafkan dan Doakan :)

Terkadang, kita sebagai pribadi individu yang mempunyai seorang sosok bernama teman, jengkel atau bahkan marah ketika melihat teman tersebut melakukan kesalahan. Dan seringkali tindakan yang terambil adalah menasehatinya dengan cara memarahinya. Wajarkah? Lebih baik tidak punya teman daripada harus merasa sakit karena teman atau menahan diri dari melakukan suatu hal yang diinginkan kemudian malah mengerjakan hal lain hanya untuk membuat teman senang. Lebih baik sendiri. Bisa melakukan apa saja yang ingin dilakukan tanpa ada orang yang menghalangi atau tidak suka dengan apa yang sedang dilakukan. Bersama teman, kenangan terindah bisa terjadi. Akan tetapi sendirian lebih terasa semua keindahan. Karena tidak ada seseorang yang memaksa untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang dia miliki.

Kisah Sebuah Hadiah (3-tamat)

Terpisah jarak pada daratan. Akan tetapi masih jelas teringat bagiku tanggapanmu akan hadiah sederhana yang keberikan padamu. Respon yang sama sekali tidak kuharapkan. Benar-benar mengecewakan. Tapi apalah arti pandanganku mengenainya yang begitu sangat sulit untuk dipahami, jika kau sangat ingin memahaminya. Bagiku, sulit sekali membaca lembaran hidupmu, karena aku begitu ingin sekali membacanya sampai-sampai lupa akan tujuanku untuk berusaha memahamimu. Itulah yang sedang terjadi, aku menganggapmu begitu sulit. Sepertinya tidak, jika aku dapat mengenali tujuanku kembali. Well, udah cukup lama gue pikirin gimana baiknya tamatnya cerita kali ini. Semakin lama gue pikirin, jujur gue makin pusing dibikin. Soalnya cerita cinta beginian makin rumit kedepannya, karena memang belum ada tujuan pasti dari kenapa gue harus ngejalanin ini. Haha, terlihat labil gue ya? Sudahlah, makin dibahas makin labil, mending gak usah dibahas aja yaak! xD Yah, gue ngerti banget ini bukan ending paling b...

Naluri yang Kelaparan

Sibuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang "berisi" membuatku hampir tak sempat merasakan bagaimana rasanya remaja menjalani masa-masa mereka. Salah satunya, cinta. Sejujurnya, aku sengaja melakukan semua kegiatan itu di waktu liburan yang agak panjang ini. Berniat untuk memfokuskan diri pada sesuatu yang lebih penting. Menyampingkan perasaan hati yang seakan haus akan kasih sayang orang lain selain keluarga. Naluri ini belum mempunyai "makanannya". Tidak bisa dibiarkan ia melahap apa saja yang ada dihadapannya. Haruslah dipilah terlebih dahulu, dibersihkan dari kotoran dan dimasak dengan baik. Dan untuk menahan rasa laparnya -salah satunya caranya- dengan puasa. Di bulan Ramadhan yang sangat indah ini, sangat membantu sekali bagi raga yang ingin mendapat walau sejumput rasa itu. Aku merasa sendirian melakukan ini semua. Karena memang, sudah lama sekali tidak kuhubungi teman-temanku yang sedang bersama keluarganya sekarang. Merindukan mereka, ingin berbagi kisah a...