Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Random of Me

Dear, My Fellas...

Pertemanan itu bukan suatu hal yang mudah dibuat dalam jangka waktu sebentar. Bagi saya begitu. Jadi bisa dihitung jari teman-teman yang masih in touch sama saya. Hehe... Bahkan untuk ukuran seorang teman, kita bisa lebih terbuka dibandingkan dengan keluarga kita sendiri. Iya nggak? Nah, untuk itu di tulisan kali ini saya pengen sampein ke teman-teman terdekat saya yang sekiranya mungkin buka blog saya ke depannya nanti.

Bosan?

Pikir. Berpikir! Jika bosan, tengoklah keluar. Perhatikan apa yang luput dari penglihatanmu. Rutinitas harian yang terulang seringkali membuat jenuh. Untuk mengatasinya pun berbagai aktivitas acapkali dibuat berbeda. Meski esensinya sama saja. Tidak kehilangan ide, target mingguan bahkan bulanan pun tercipta. Tapi tetap saja bosen! Memutar otak pun rasanya percuma.

Rencana yang Tidak Direncanakan

Sudah beberapa kali saya menolak untuk membuat tulisan berjenis curhatan dikarenakan beberapa alasan. Pertama, curhatan itu dianggap tulisan ringan dan tidak berbobot. Awalnya saya berpikir seperti itu. Kedua, curhatan biasanya berisi aib penulis itu sendiri. Saya sempat bertanya apa iya saya selalu mengumbar kesalahan yang pernah saya buat ke orang lain? Ketiga, saya mau coba mencari gaya menulis yang berbeda. Menurut saya, gaya curhat itu sudah biasa bahkan sedang kekinian saat ini. Juga pembuatannya mudah, menuliskan apa yang pernah terjadi pada kita. Tapi alasan-alasan saya diatas itu pun dapat saya bantah sendiri. Karena yang buat alasan juga saya kan? Haha. Gaya curhat memang terkesan mudah dan sederhana. Tapi jangan salah, tidak semua orang bisa menuliskan apa yang dia pikirkan dan rasakan begitu mudah. Penyaluran segala pemikiran dan perasaan itu pun butuh metode dan kebiasaan menulis. Kemudian, tentang mengumbar aib. Di sini mungkin koreksi untuk saya pribadi agar membedak...

Nasihat Seorang Teman

Beberapa hari terakhir ini inget sama temen-temen SMK. Banyak kenangan bagus-bagus ternyata. Salah satunya ya orang ini. Sama dia saya masih dalam proses hijrah. Meski gak selalu bareng dia, tapi soal dukungan selalu dapet dari dia. Namanya? Hm, dikasi inisial atau nama asli ya. Dia ini kayak emak gitu buat saya dan teman yang lain. Keibuan dan full perhatian. Baiq Farmi namanya. Sewaktu kita berdua lagi sering-seringnya pantengin video ceramah Ust. Felix Siauw, saya ditegur sama dia. Dulu, saya itu kalo udah suka sama sesuatu pasti suka terus dan dicari tau tentang itu. Sama halnya kayak ceramah tadi. Saya lagi suka banget dengerin ceramah dari Ust Felix, bahkan nggak mau dengerin ceramah dari ustadz lain. Sampai akhirnya, Emi (panggilan singkatnya) minta tolong sama saya untuk dianterin ambil bajunya yang udah selesai dijahit. Di perjalanan, dia ngomong tentang saya yang nggak mau dengerin ceramah lain. Dia bilang itu namanya pengkultusan. Meski kebenaran disampaikan oleh beliau jan...

Jangan Takut Sendirian

Perasaan tak nyaman bahkan hambar seringkali menghampiri sebuah persahabatan. Perbedaan watak dan cara berpikir turut menyertai. Bagi saya pertemanan itu menyenangkan. Di satu sisi menjadi bumerang. Dengan mereka kita menjadi taat. Dengan mereka pula kita dapat melakukan maksiat. Itu tanpa kita sadari, karena dengan mereka hati sudah terbiasa. Seakan tumpul peringatan yang diucapkan di telinga kita, karena melihat teman juga masih sama seperti itu. Kita melakukan pembenaran dari orang lain yang belum paham. Begitukah pertemanan?

Jangan Hanya Berbicara

Membicarakan keburukan orang lain bisa saja dilakukan semua orang. Rasanya mungkin enak, karena kita membicarakan orang lho. Kemudian, tanpa sadar kita membandingkannya dengan orang yg lain juga. Seperti kitalah juri dalam kehidupan mereka. Memutuskan mana yg terbaik dan mana yg terburuk. Mengurutkan perilaku manusia, mulai dari yg paling baik menurut kami hingga yg terburuk dengan standar kami, perasaan kami, dan anggapan kami. Kami sibuk sekali membicarakannya. Sebuah suara berbicara di dalam kepala kami. Suaranya terlalu kecil. Kami pun tidak ingin repot-repot berusaha mendengarkannya. Bahkan mengabaikannya. Tahukah suara itu berkata apa?

Betapa Malunya...

Akhir-akhir ini rasa malas kembali menjeratku. Kali ini ikatannya terasa lebih kuat, mampu mempengaruhi perasaanku. Sehingga rancangan kegiatan yg sudah direncanakan oleh pikiranku tidak kuasa menahan gejolak perasaan yang setiap hari kian bertambah. Bahkan mengendalikan. Mungkin ini yg dinamakan terjajah oleh diri sendiri. Ya, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Walau sebenarnya yg berperan disini adalah ketidakmampuan diri dalam menyeleksi apa yg tidak penting dan sangat penting.

Tersentak

Diawali dengan malam yg begitu rumit sehingga menjadi langkah terlambat bagi saya saat mendatangi mata kuliah bahasa inggris. Secara singkat sih, sy telat 3-5 menit. Dan dosen sudah duduk manis di depan, berbeda sama dosen-dosen sebelumnya. Lumayan nyaman cara beliau menyampaikan pendahuluan. Tapi inti postingan ini bukan bahas dosen kok. Bergegas mencari kakak tingkat untuk mendaftar kuliah informal, tujuan saya selanjutnya. Turun dari lantai teratas ke bawah yaitu lantai tiga dengan manual alias tangga. Kebetulan banget saya bawa anak lagi (baca: laptop).

Agar Lelah Menjadi Berkah

Padatnya jadwal aktivitas harian, pastinya membuat badan lelah. Bahkan gak jarang setan meniupkan bisikan mautnya. "Sudah berhenti aja. Toh kamu masih muda. Sekarang waktunya santai-santai. Ngapain capek-capek ngurus ini itu. Udahlah, masih banyak orang lain kok." Yap, bisikan halus begini kadang ampuh membuat kita mundur dari sibuknya kegiatan, entah itu sekolah atau non-sekolah. Malah rasa bosan tiba-tiba aja nyamperin, trus minta kita untuk menunda kewajiban. Manusiawinya manusia ya kayak gitu. Insya Allah semua yg baca postingan ini manusia kan ya? ^^

Kebiasaan Menulis

Perasaan yang gak nyaman ketika memulai suatu kebiasaan dengan paksaan. Ini terlihat kurang baik bukan? Tapi tidak berlaku sama sekali dalam hukum produktivitas. Ini pengalaman juga sebenarnya. Saya punya suatu agenda khusus untuk diri sendiri. Yang kemudian saya berusaha untuk menepatinya dan menjalaninya. Coba tebak? Menulis catatan harian. Kayak dear diary gitu, Ndi? Waks! Gak begitu-begitu amat sih. Tapi intinya sama. Menuliskan kegiatan yang sudah dilakukan setiap hari. Tujuannya buat apaan? Kok kayak kurang kerjaan gitu? Ehm, terlihatnya ya "begitu". Tapi, ini agenda kan buat saya. Jangan sewot gitu dong... Cuma berbagi, siapa tau ada yang bisa diambil. Kalo nggak, ya jangan dan kalo salah tegur aja gak papa kok ^^

Perasaan dan Prasangka

Perasaan itu sungguh sangat relative sekali. Ia bisa berubah menjadi hal menyenangkan jika berhubungan dengan kebahagiaan. Seseorang yang sedang senang hatinya pun bisa berubah menjadi seseorang yang lain, berani melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dicobanya. Mempunyai semangat yang berkobar begitu hebatnya. Mendadak menjadi pemotivasi bagi yang lain. Begitulah sekilas, dampak dari perasaan. Namun, seringkali kita hanya bisa merasakan indahnya hidup jika telah mengalami hal-hal yang baik. Hal-hal yang menyenangkan. Hal yang memang selalu diinginkan oleh setiap orang. Bagaimana halnya dengan perasaan negatif? Jangan ditanya pun, sudah pasti banyak sekali jawaban yang akan terlontar untuk mendefinisikan hal ini.

Punggungmu, Ayah!

Melihat punggungmu menjauh membuatku diriku seakan rindu. Kenangan beberapa tahun yang lalu tak pernah bosan mendatangiku disaat lelah maupun senang. Sudah beberapa hari ini kupendam perasaan ingin seperti dulu. Ketika membutuhkanmu selalu saja engkau ku panggil untuk membantuku. Tak peduli kau sedang sibuk atau tidak. Kalau hal itu masih memusingkanku, selalu kutanyakan sampai aku benar-benar memahaminya. Namun, sekarang. Ketika aku sudah mulai memasuki bangku kelas 2 SMK. Engkau seakan membiarkanku mengerjakan semuanya dengan tanganku tanpa pernah kau bantu. Disatu sisi aku merasa bangga bisa menyelesaikan banyak hal dengan tanganku. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Hanya sebentar. Dan kembali kepada membutuhkanmu layaknya dulu ketika aku masih kesulitan menghitung pembagian angka sederhana.

Rasa Syukur Kerdil

Sulit sekali rasanya mengekspresikan perasaan ya. Tindakan yang terpilih justru sebaliknya, tidak menampakkan melainkan memperlihatkan sebaliknya. Begitu yang sedang terjadi pada saya. Iya begitulah. Sulit sekali memberitahukan bahwa raga ini sedang letih, sehingga jika ada kesalahan dalam kontak fisik justru amarahlah yang terlontarkan. Saya capek. Saya sedang capek. Tidak usah diganggu dulu, begitu perkataan dalam hati. Namun tidak terucapkan. Karena saya berharap agar dengan diamnya raga ini sembari berpura-pura membaca buku menandakan bahwa saya sedang melakukan sesuatu yang tidak untuk diganggu. Sederhana saja yang kebanyakan orang terkadang tidak memahaminya. Tentu saja, tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

I am not Better than Anyone Else

Di sela-sela waktu yang begitu terpadati oleh jadwal, disinilah saya. Mencuri-curi waktu untuk menuliskan perasaan. Hahaha, ini puitis sekali. Karena terkadang meskipun tidak menceritakan pada siapa pun hanya melalui tulisan saja, itu sudah cukup. Sulit mengakui bahwa usaha yang telah saya kerahkan masih belum cukup. Melihat yang lain lebih sukses daripada saya, itu agak menyayat hati. Ya, ini namanya penyakit hati. Suka merasa lebih baik daripada yang lain. Merasa lebih mampu dibanding yang lain. Merasa, terasa, ini masalah perasaan. Perasaan abstrak yang muncul pada waktu tak disangka-sangka pula. Seakan kuda liar perasaan ini, terkadang sulit sekali untuk dikendalikan. Hanya ingin dituruti saja tanpa mau mengikuti peraturan.

I am Eight Teen

Huh, curahan hati ini begitu banyak! Seringkali setiap menemukan suatu kesempatan, semua kisah berebutan untuk diceritakan. Dan karena saat ini si penulis blog menduduki kelas 3 SMK, semuanya terasa sangat padat. Entah dari jadwalnya, tugasnya, maupun kewajiban serta hak-haknya. Ini merupakan sesuatu yang sangat wajar bagi seseorang yang sudah bertambah umurnya. Bertambah pula beban serta tanggung jawabnya. Itulah yang sedang dirasakan oleh si penulis. Berat, capek, jenuh, bahkan terkadang suka mengeluh akan begitu banyaknya hal-hal yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam. Seakan waktu yang didapat kurang hingga hampir terasa tidak cukup.

My Problems >> The Feelings

The way you put your feelings may cause a trouble. Itu tepatnya buat saya. Seharian ini ngerasa aneh terus. Diawali dengan pagi yang agak amburadul karena telat bangun. Lalu, mengantar sepupu ke sekolah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Otomatis, peraturan yang saya terapkan setiap menggunakan motor yakni kecepatan 40km/jam saya langgar. Yah, ini darurat. Sesampainya di sekolah tercinta (karena lagi bentar mau lulus haha!) banyak siswa yang sudah berbaris. Crap!! Syukur aja pintu gerbangnya belum ditutup, itu aja sih. Wkwk, tapi ogah telat lagi. Gak enak! Rasanya tenaga yang habis 2x lebih banyak dari biasanya. Itu namanya pemborosan, *pelit mode on.

The Power of Istikharah

Berawal dari beberapa hari yang lalu, tepatnya hari sabtu tanggal 17 Januari atau 26 Rabiul Awwal. Beberapa orang laki-laki memasuki ruang kelas saya. Sebelumnya saya sempat menerka bahwa mereka merupakan orang-orang yang sedang mencari lowongan kerja di sekolah. Hahaha, asli sok tau! Ternyata mereka dari STIKI Indonesia di Bali. Sekarang kan lagi musim-musimnya promosi universitas. Maklum tinggal menghitung hari, saya dan rekan-rekan kelas 12 lainnya akan meninggalkan sekolah masing-masing. Otomatis banyak banget univ yang promosi ke sekolah-sekolah. Dan bisa dibayangkan, mas-mas yang promo jago banget ngomongnya. Gak heran deh, kalau banyak teman-teman saya yang tertarik. Karena, jujur saya pun tertarik. Entah dari gaya si masnya ngomong plus materi yang disampaikan itu benar-benar menarik hati ini!

A Scar

Luka sebagaimana definisi umumnya menimbulkan rasa sakit bagi si penderitanya. Perih, si luka kerap kali berdenyut-denyut tanpa henti. Kau tau, sistem tubuh memperbaiki luka itu. Menumbuhkan sel-sel baru padanya. Dengan kata lain perlahan-lahan menuju kesembuhan.  Layaknya luka, setiap hati pun begitu. Entah patah atau robek, kau tak pernah tau. Tanpa pernah terluka hati tak akan memperkuat bagian-bagiannya. Bahkan menciptakan sesuatu yang baru. Pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, ada satu keping puzzle yang terlupa. Bagaimana caranya? Untuk luka sudah ada sistem yang mengatur. Lalu, bagaimana dengan hati yang entah dimana pengaturannya? Kau tau, teman? Kaulah bagian dari pengaturan tersebut. Kau yang

Kata-kata Seorang Gadis Kecil

Ketika masa lalu temanmu berjalan tanpa sepengetahuanmu, biarlah. Ini bukan berarti kau tak peduli. Hanya saja ingin menyamakan langkah dengannya seraya membahas perihal apa saja yang telah terjadi padanya. Tertinggal suatu berita sudah biasa. Bagaimana dengan perkembangan seseorang yang begitu dekat denganmu seperti sahabat? Merasa terjauhi itu yang terasa. Tidaklah serupa apa yang terlihat dengan yang terasa. Karena seringkali penglihatan dapat ditipu daya. Bukan juga membenarkan prasangka hati. Yang ingin disampaikan hanyalah mencoba mendekati. Tidaklah lupa dengan niat yang tulus. Karena biasanya, niatan dengan keinginan saling bersaing dan tidak dapat melampaui tujuan yang seharusnya dicapai. Membesarnya ego tatkala salah satunya bersalah dan tak mau meminta maaf. Bosan kilahnya. Solusi tidaklah terdengar bosan. Justru menjadi penyembuh bagi penderitanya. Apalah arti kata-kata dari mulut seorang gadis kecil ini. 

The Choices

Selalu menyenangkan memang jika bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, bukankah begitu? Dan gue juga berusaha untuk bisa mengikuti semua kegiatan yang khususnya keluarga gue adakan. Tapi, kadang gue butuh waktu buat sendirian menyelesaikan banyak hal yang sudah direncanakan sejak awal, dan seringkali pula gue merasa lebih mengutamakan acara keluarga tersebut meski hanya "menonton tv" ya menonton. Agak sedikit merasa menyesal juga sebenarnya. Walau begitu, gue tetep kekeuh ikuut acara keluarga kecil-kecilan itu. PKL atau Praktek Kerja Lapangan terasa sedikit memberatkan bagi gue, ketika baru-baru menjalaninya. Karena memang, waktu yang dihabiskan sangatlah banyak, bung! Dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Dari situ, waktu gue mulai padet banget. Rata-rata kegiatan yang udah gue rencanain terpaksa dibatalin dikarenakan gue capek banget, hehe. Walhasil, berkumpul dengan acara keluarga juga begitu sulit.