Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Life Journey

Our Skill

Wah, nggak terasa ternyata udah lama ga kesini. Terakhir bulan Juli dan sekarang udah Oktober bahkan mau masuk November aja... Salah satu pesan yang buat saya mau nengok kesini lagi adalah "Potensi yang diberikan kepada kita tapi tak kunjung kita gunakan, bisa jadi Allah akan mencabutnya."

Hasil Diskusi (yang kemudian saya luruskan)

Hari pertama puasa dengan pembukaan mata kuliah Agama II. Seru sekali. Sungguh di luar prediksi. Terlebih karena pembahasannya mengenai Politik dalam Islam. Dimana istilah politik Islam itu bagi sebagian orang tidak pantas. Sebab, Islam suci dan politik itu kotor. Sehingga tidak pantas menggabungkan keduanya. Begitu pula dengan diskusi tadi pagi. Memperlihatkan pemahaman teman-teman kelas terhadap politik Islam. Ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju. Kebetulan, pematerinya ada yang menyinggung tentang HTI dan tidak setuju dengannya.

Jangan Nikah Sebelum...

Alhamdulillah, akhirnya dipertemukan kembali dengan blog. Banyak sekali sebenarnya yang ingin saya bagi tapi karena terbatas keinginan serta hal lain jadi banyak tertunda. Salah satunya ya disiplin nulis yang masih kurang. Hehe. Okay, lanjut! Beberapa waktu belakangan ini saya sering sekali mendengar teman-teman yang ingin nikah. Alhamdulillah ini merupakan salah satu bentuk hijrah karena menyudahi aktivitas pacaran. Nah, tapi ada pesan nih untuk Jangan Menikah Sebelum...buat teman-teman yang notabenenya ingin hubungan halal. Bukan cuma sekedar pacaran halal ya. Sip, silakan disimak tulisan dari ummu Nurismafira berikut.

Seminar Persiapan

Alhamdulillah, hari minggu kemarin tanggal 4 Maret 2018 saya dan Mita berkesempatan untuk hadir di seminar Parenting Islami dan Pra-Nikah di Gedung Sangkareang. Sesuai dengan judul, kami yang datang ke seminar itu tentu sedang mempersiapkan diri untuk "esok". Pemaparan narasumber tentang parenting Islami bener-bener membuka pikiran kami. Kenapa bisa? Apa yang disampaikan tidak pernah terpikirkan oleh kami. Bagaimana mengatasi anak yang sudah kecanduan main gadget, bagaimana mendidik anak supaya terbiasa tanpa gadget dan lain-lain. Sebab era digital memungkinkan segalanya berbasis teknologi yang dalam hal ini adalah smartphone.

Dear, My Fellas...

Pertemanan itu bukan suatu hal yang mudah dibuat dalam jangka waktu sebentar. Bagi saya begitu. Jadi bisa dihitung jari teman-teman yang masih in touch sama saya. Hehe... Bahkan untuk ukuran seorang teman, kita bisa lebih terbuka dibandingkan dengan keluarga kita sendiri. Iya nggak? Nah, untuk itu di tulisan kali ini saya pengen sampein ke teman-teman terdekat saya yang sekiranya mungkin buka blog saya ke depannya nanti.

Bosan?

Pikir. Berpikir! Jika bosan, tengoklah keluar. Perhatikan apa yang luput dari penglihatanmu. Rutinitas harian yang terulang seringkali membuat jenuh. Untuk mengatasinya pun berbagai aktivitas acapkali dibuat berbeda. Meski esensinya sama saja. Tidak kehilangan ide, target mingguan bahkan bulanan pun tercipta. Tapi tetap saja bosen! Memutar otak pun rasanya percuma.

Becanda kok nggak mutu

Sedikit cerita di bulan puasa. Mungkin ini berupa uneg-uneg dari kelakuan teman saya. Saya tipe orang yang bisa dibilang agak serius. Itu menurut saya dan pengalaman nyata juga orang-orang di sekitar yang sering bilang, "Jangan terlalu serius kenapa, Ndi". Okelah. Jadi kejadiannya kemarin hari Selasa. Saat kumpul dengan teman kelompok untuk membahas tugas, ada teman laki-laki dari kelas lain menyapa teman kelompok saya, cewek. Sebut aja teman kelompok saya ini Vira. Wawan, teman laki-laki saya tadi, mencoba untuk merebut ponsel Vira, sekedar bercanda beberapa kali. Saya yang lihat merasa risih. Becanda apa maksa ya? Pikir saya begitu. Akhirnya, Wawan berhenti ganggu dan mau pamit pulang. Eh, sebelum pulang dia minta salaman sama Vira. Spontan Vira mengatupkan kedua tangannya menandakan dia nggak mau salaman. Wawan ngeyel. Dia coba membungkus tangannya supaya tetap bisa bersalaman. Vira tetap nggak mau. Wawan tetap maksa, meski alasan Vira udah jelas. Mereka bukan mahram....

Rencana yang Tidak Direncanakan

Sudah beberapa kali saya menolak untuk membuat tulisan berjenis curhatan dikarenakan beberapa alasan. Pertama, curhatan itu dianggap tulisan ringan dan tidak berbobot. Awalnya saya berpikir seperti itu. Kedua, curhatan biasanya berisi aib penulis itu sendiri. Saya sempat bertanya apa iya saya selalu mengumbar kesalahan yang pernah saya buat ke orang lain? Ketiga, saya mau coba mencari gaya menulis yang berbeda. Menurut saya, gaya curhat itu sudah biasa bahkan sedang kekinian saat ini. Juga pembuatannya mudah, menuliskan apa yang pernah terjadi pada kita. Tapi alasan-alasan saya diatas itu pun dapat saya bantah sendiri. Karena yang buat alasan juga saya kan? Haha. Gaya curhat memang terkesan mudah dan sederhana. Tapi jangan salah, tidak semua orang bisa menuliskan apa yang dia pikirkan dan rasakan begitu mudah. Penyaluran segala pemikiran dan perasaan itu pun butuh metode dan kebiasaan menulis. Kemudian, tentang mengumbar aib. Di sini mungkin koreksi untuk saya pribadi agar membedak...

Yuk Ngaji!

Menulis itu untuk saya pribadi, seperti melihat cerminan diri dalam suatu wadah. Apa yang sudah dituliskan kemudian dibaca kembali, kadang-kadang membuat terkejut! Sosok saya ternyata berpikiran seperti ini dan itu. Bukan bermaksud sombong, cuma takabur aja... Tidak hanya itu, menulis bisa jadi kegiatan menyegarkan ketika kepala dan hati terasa kering oleh kata-kata. Banyak hal dan banyak persepsi tentang menulis. Bagi saya, menulis adalah tempat dimana saya tidak ingin ditemui secara fisik, namun isi kepala sayalah yang akan ditemui.

Jangan Takut Sendirian

Perasaan tak nyaman bahkan hambar seringkali menghampiri sebuah persahabatan. Perbedaan watak dan cara berpikir turut menyertai. Bagi saya pertemanan itu menyenangkan. Di satu sisi menjadi bumerang. Dengan mereka kita menjadi taat. Dengan mereka pula kita dapat melakukan maksiat. Itu tanpa kita sadari, karena dengan mereka hati sudah terbiasa. Seakan tumpul peringatan yang diucapkan di telinga kita, karena melihat teman juga masih sama seperti itu. Kita melakukan pembenaran dari orang lain yang belum paham. Begitukah pertemanan? Pengalaman berteman semua orang sudah pernah mengalaminya. Entah semanis gula buatan atau sepahit cokelat sebelum diolah. Sama juga kayak saya. Menarik cara saya berteman dulu ketika masih di bangku sekolah menengah pertama. Diri saya seakan terbagi menjadi dua. Satu sisi ingin berteman dengan teman-teman yang gaul. Satu sisinya lagi berteman dengan teman-teman yang sederhana. Entah kenapa saya mulai begini. Kelas 1 SMP saya nggak membagi diri seperti kelas 2 ...

Nasihat Seorang Teman

Beberapa hari terakhir ini inget sama temen-temen SMK. Banyak kenangan bagus-bagus ternyata. Salah satunya ya orang ini. Sama dia saya masih dalam proses hijrah. Meski gak selalu bareng dia, tapi soal dukungan selalu dapet dari dia. Namanya? Hm, dikasi inisial atau nama asli ya. Dia ini kayak emak gitu buat saya dan teman yang lain. Keibuan dan full perhatian. Baiq Farmi namanya. Sewaktu kita berdua lagi sering-seringnya pantengin video ceramah Ust. Felix Siauw, saya ditegur sama dia. Dulu, saya itu kalo udah suka sama sesuatu pasti suka terus dan dicari tau tentang itu. Sama halnya kayak ceramah tadi. Saya lagi suka banget dengerin ceramah dari Ust Felix, bahkan nggak mau dengerin ceramah dari ustadz lain. Sampai akhirnya, Emi (panggilan singkatnya) minta tolong sama saya untuk dianterin ambil bajunya yang udah selesai dijahit. Di perjalanan, dia ngomong tentang saya yang nggak mau dengerin ceramah lain. Dia bilang itu namanya pengkultusan. Meski kebenaran disampaikan oleh beliau jan...

Jangan Takut Sendirian

Perasaan tak nyaman bahkan hambar seringkali menghampiri sebuah persahabatan. Perbedaan watak dan cara berpikir turut menyertai. Bagi saya pertemanan itu menyenangkan. Di satu sisi menjadi bumerang. Dengan mereka kita menjadi taat. Dengan mereka pula kita dapat melakukan maksiat. Itu tanpa kita sadari, karena dengan mereka hati sudah terbiasa. Seakan tumpul peringatan yang diucapkan di telinga kita, karena melihat teman juga masih sama seperti itu. Kita melakukan pembenaran dari orang lain yang belum paham. Begitukah pertemanan?

Kenapa Perlu Motivasi?

Salah satu motivator Indonesia favorit saya adalah... Ippho Santosa Saya menyukai seminar motivasi atau training motivasi. Walau sebelumnya saya hanya sekedar tahu beliau tanpa pernah mengkuti trainingnya sama sekali. Ketika saya di- recommend kan oleh adik kelas sy channel telegram beliau, saya join dan membaca tulisan-tulisan beliau. Kakak saya, salah satu orang yang berpengaruh bagi saya sempat berpendapat, kalau dia nggak suka dengan seminar motivasi apa pun. Menurutnya, motivasi tidak begitu berdampak bagi individu. Tergantung pada karakter, tujuan dan dasar individu itu sendiri. Bila memang tidak mau begini, maka tidak akan bisa bagaimanapun menggugahnya motivasi yang diberikan. Bagi saya sendiri sempat berpikiran seperti itu. Akan tetapi, saya sadar kita dipengaruhi oleh 2 faktor yakni eksternal dan internal. Dalam suatu majalah saya dapatkan bahwa kita sendiri ternyata mempunyai andil yang cukup besar dalam mempengaruhi tindakan kita. Internal yang dimaksud di...

Menjadilah...

Dalam lembaran hari tertulis kisah-kisah perjalanan hidup kita sebagai manusia. Mau kita menyadarinya tertulis atau tidak, tetap saja itu akan menjadi suatu kisah nantinya. Asam hambarnya sudah seringkali kita rasakan. Setiap kita selalu membutuhkan pendamping. Tidak mesti berwujud pasangan hidup yang terikat dengan suatu perjanjian. Ini lebih sederhana. Seorang teman yang akan menemani kita saat ini juga ke depannya, jika bisa.

Tersentak

Diawali dengan malam yg begitu rumit sehingga menjadi langkah terlambat bagi saya saat mendatangi mata kuliah bahasa inggris. Secara singkat sih, sy telat 3-5 menit. Dan dosen sudah duduk manis di depan, berbeda sama dosen-dosen sebelumnya. Lumayan nyaman cara beliau menyampaikan pendahuluan. Tapi inti postingan ini bukan bahas dosen kok. Bergegas mencari kakak tingkat untuk mendaftar kuliah informal, tujuan saya selanjutnya. Turun dari lantai teratas ke bawah yaitu lantai tiga dengan manual alias tangga. Kebetulan banget saya bawa anak lagi (baca: laptop).

Agar Lelah Menjadi Berkah

Padatnya jadwal aktivitas harian, pastinya membuat badan lelah. Bahkan gak jarang setan meniupkan bisikan mautnya. "Sudah berhenti aja. Toh kamu masih muda. Sekarang waktunya santai-santai. Ngapain capek-capek ngurus ini itu. Udahlah, masih banyak orang lain kok." Yap, bisikan halus begini kadang ampuh membuat kita mundur dari sibuknya kegiatan, entah itu sekolah atau non-sekolah. Malah rasa bosan tiba-tiba aja nyamperin, trus minta kita untuk menunda kewajiban. Manusiawinya manusia ya kayak gitu. Insya Allah semua yg baca postingan ini manusia kan ya? ^^

Udah Berteman Aja!

Bercerita sedikit tentang pengalaman ospek kemarin (hari kedua). Meskipun sudah berkenalan dengan beberapa MaBa tetep aja, sisanya yg berjumlah ribuan belum tersentuh perkenalan. Hihi, rakus sekali mau kenal semuanya. Gak gitu juga kali. Nah, temen SMK saya bilang kalo saya ini banyak sekali temennya. Padahal jujur aja, kalo dihitung kurang dari sepuluh orang! Kenapa bisa terlihat banyak ? Oke, sy gak bermaksud menyombongkan diri, tapi lebih ke membahas bukunya Ust. Salim A. Fillah yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah. Di buku itu dibagi dalam beberapa bab yg isinya mengenai ukhuwah atau hubungan antara sesama. Dimana ketika baca ebook (hehe belum bisa beli) itu, perilaku dan sifat saya tersindir semua. Yang berkaitan dalam ikatan pertemanan atau perkenalan berdasar cerita saya adalah Yang Tertarik Itu Menarik.

OSPEK and Our Meeting, Fellas!

Hari ini OSPEK Universitas! Wuih, rame bener auditorium dibuatnya..! Banyaknya siswa yang berasal dari beragam daerah, tentu dengan logat bicara yang mereka gunakan. Perasaan ini sungguh asing. Maksudku, keadaan yang terlalu ramai ini lebih membuatku pusing! Karena jarang sekali aku mengikuti acara yang jumlah orangnya sebanyak ini. Sekitar ribuan orang. Walaupun ketika di SMK-ku dulu muridnya berjumlah ribuan, tapi ini berbeda. Orang-orangnya sangat tidak banyak kukenal. Hal inilah yang membuatku seakan melangkah keluar dari zona nyaman dan aman.

Menghafal Qur'an? SERU!

Banyak banget keluhan yang sering terdengar dan terbaca dimana-mana. Masalahnya gak lain gak bukan ya tentang menghafal. Kenapa ya hafal lagu itu lebih cepet plus gampang daripada hafalin pelajaran sekolah? Kenapa ya hafal Al Quran susah banget dibandingin sama lirik lagu penyanyi X? Kenapa ya? Semuanya berujung pada kenapa dan dibandingkan dengan sesuatu yang emang terlihat lebih mudah untuk dihafal. Oke, kita bongkar dulu alasannya kenapa bisa kejadian kayak gitu.

Kebiasaan Menulis

Perasaan yang gak nyaman ketika memulai suatu kebiasaan dengan paksaan. Ini terlihat kurang baik bukan? Tapi tidak berlaku sama sekali dalam hukum produktivitas. Ini pengalaman juga sebenarnya. Saya punya suatu agenda khusus untuk diri sendiri. Yang kemudian saya berusaha untuk menepatinya dan menjalaninya. Coba tebak? Menulis catatan harian. Kayak dear diary gitu, Ndi? Waks! Gak begitu-begitu amat sih. Tapi intinya sama. Menuliskan kegiatan yang sudah dilakukan setiap hari. Tujuannya buat apaan? Kok kayak kurang kerjaan gitu? Ehm, terlihatnya ya "begitu". Tapi, ini agenda kan buat saya. Jangan sewot gitu dong... Cuma berbagi, siapa tau ada yang bisa diambil. Kalo nggak, ya jangan dan kalo salah tegur aja gak papa kok ^^