Aku termenung membaca surat Zara. Karena yang dia tuliskan termasuk gejala depresi. Ingin kutanyakan, apakah dia jadi malas mandi juga kah? Tapi rasanya engga sopan. Ingin membalasnya dengan cerita juga rasanya kurang pas. Baiklah, kali ini ku tulis saja surat untuk Zara walau tidak kukirimkan padanya.
___
Ra, aku kembali patah hati. Kupatahkan dengan kesadaran penuh.
Tanpa sadar aku menaruh perasaan pada sosok yang tidak kuketahui dia siapa. Aku hanya mengetahui nama akunnya di X. Dan lokasinya di Bandung. Selebihnya tidak ada.
Perasaan itu hadir diam-diam. Dimulai dari dia beberapa kali merespon tulisanku di X. Bahkan sering. Hal yang membuatku tertarik puncaknya ternyata dia juga mengikuti kajian yang sama denganku.
Tidak cukup sampai di situ, dia sering mengutip tulisanku pada akunnya. Kukira dia tertarik padaku. Karena hal itu tidak dia lakukan pada orang lain.
Beberapa bulan berlalu. Melihat akunnya, menunggu apa yang dia tulis menjadi hal yang kugandrungi. Dan sampailah aku pada suatu komentar yang dia tulis. Kalau dia ditawarkan untuk berkenalan dengan perempuan yang baru saja gagal ta'arufnya.
Baiklah, itu menjadi pertanda bagiku. Sudah cukup ketertarikan ini sampai di sini. Tidak boleh diteruskan. Sudah.
Apa yang harus kulakukan? Untuk menyibukkan diri, aku mengikuti kelas bahasa Arab sebanyak tiga kelas dengan level yang berbeda. Kelas bahasa Rusia akan dimulai di pekan pertama bulan Januari nanti. Aku tidak ingin terlarut dengan perasaan yang tidak sampai ini. Bahkan, sudah empat hari aku tidak membuka akun X agar tidak melihat tulisannya. Agar tidak teringat lagi padanya. Agar tidak lagi berharap bahwa dia akan menjadi sosok yang akan menemaniku nanti.
Bisikan lain mendatangiku. Kenapa menikah sesusah ini? Kenapa bertemu dengan calon pasangan sebegini susah? Apakah standarku terlalu tinggi? Sampai kapan aku harus mencari dan menunggu?
Komentar
Posting Komentar