Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label My Mind Says

Surat untuk Murai (2)

(Dari Zara untuk Murai) Menulis balasan untuk Ai ternyata tidak semudah itu. Menuangkan dan menata ulang isi pikiran juga tidak gampang, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Kuberanikan diri membalas e-mail Ai yang sudah berapa bulan ini tak tersentuh. Harapanku, semoga Ai mau membacanya. Kalau mode berbicara aku berharap Ai mau mendengarkan. Aku terbuka untuk solusi atau sekedar balasan simpati. Sebagai tanda bahwa tulisanku didengar olehnya. ______

Pilihan Menghasilkan Akibat

Suatu Senin pagi yang mengharuskan kami untuk mendatangi kampus. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengumpulkan tugas UTS. Selesai absen dan menyerahkan tugas, kami pun membubarkan diri. Parahnya ada satu temen saya sebut aja namanya Viana, dateng telat. Gak cukup sampai disitu ternyata tugasnya dia titip print di temen yang lain dan temen itu (anggap aja namanya Andi) belum dateng juga. Berabe dah...

Our Skill

Wah, nggak terasa ternyata udah lama ga kesini. Terakhir bulan Juli dan sekarang udah Oktober bahkan mau masuk November aja... Salah satu pesan yang buat saya mau nengok kesini lagi adalah "Potensi yang diberikan kepada kita tapi tak kunjung kita gunakan, bisa jadi Allah akan mencabutnya."

Hasil Diskusi (yang kemudian saya luruskan)

Hari pertama puasa dengan pembukaan mata kuliah Agama II. Seru sekali. Sungguh di luar prediksi. Terlebih karena pembahasannya mengenai Politik dalam Islam. Dimana istilah politik Islam itu bagi sebagian orang tidak pantas. Sebab, Islam suci dan politik itu kotor. Sehingga tidak pantas menggabungkan keduanya. Begitu pula dengan diskusi tadi pagi. Memperlihatkan pemahaman teman-teman kelas terhadap politik Islam. Ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju. Kebetulan, pematerinya ada yang menyinggung tentang HTI dan tidak setuju dengannya.

Seminar Persiapan

Alhamdulillah, hari minggu kemarin tanggal 4 Maret 2018 saya dan Mita berkesempatan untuk hadir di seminar Parenting Islami dan Pra-Nikah di Gedung Sangkareang. Sesuai dengan judul, kami yang datang ke seminar itu tentu sedang mempersiapkan diri untuk "esok". Pemaparan narasumber tentang parenting Islami bener-bener membuka pikiran kami. Kenapa bisa? Apa yang disampaikan tidak pernah terpikirkan oleh kami. Bagaimana mengatasi anak yang sudah kecanduan main gadget, bagaimana mendidik anak supaya terbiasa tanpa gadget dan lain-lain. Sebab era digital memungkinkan segalanya berbasis teknologi yang dalam hal ini adalah smartphone.

Dear, My Fellas...

Pertemanan itu bukan suatu hal yang mudah dibuat dalam jangka waktu sebentar. Bagi saya begitu. Jadi bisa dihitung jari teman-teman yang masih in touch sama saya. Hehe... Bahkan untuk ukuran seorang teman, kita bisa lebih terbuka dibandingkan dengan keluarga kita sendiri. Iya nggak? Nah, untuk itu di tulisan kali ini saya pengen sampein ke teman-teman terdekat saya yang sekiranya mungkin buka blog saya ke depannya nanti.

Bosan?

Pikir. Berpikir! Jika bosan, tengoklah keluar. Perhatikan apa yang luput dari penglihatanmu. Rutinitas harian yang terulang seringkali membuat jenuh. Untuk mengatasinya pun berbagai aktivitas acapkali dibuat berbeda. Meski esensinya sama saja. Tidak kehilangan ide, target mingguan bahkan bulanan pun tercipta. Tapi tetap saja bosen! Memutar otak pun rasanya percuma.

Review Sword Art Online Jilid 10 Alicization Running

Menurut saya, cerita ini dibuat berdasarkan fakta namun diselesaikan dengan cerita fiksi ilmiah. Berikut cuplikan dari light novel karya Kawahara Reki. "...Aku masih di sekolah dasar saat perang Iraq, dan Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ada banyak berita tentang bagaimana tentara Amerika menggunakan pesawat jet dan mini-tank tanpa pilot untuk menyerang musuh. Apakah itu yang kau maksud? Itu berarti senjata yang ada AI didalam nya menyerang sendiri. Kau berfikir tentang hal itu..."  

Dianolin (2): Dari Game hingga Brain

Dianolin meski saat ini lebih suka berpikir ilmiah, tetap masih menyukai anime. Namun, koleksi drama Jepangnya sudah ia hapus permanen dan tidak berniat untuk mengunduh ulang. Ada satu hal yang membuat Olin penasaran dengan anime yang satu ini, Sword Art Online. Anime ini menyajikan sebuah cerita yang berbeda berangkat dari impian para gamer dan perkembangan teknologi yang sangat pesat di tahun 2023. Argus pencetus game VRMMORPG ( Virtual Reality Massive Multiplayer Online Role Playing Game ) meluncurkan game Swort Art Online. Meski tidak begitu paham mengenai game , Olin tetap suka karena dunia seakan terlihat mudah dengan virtual game pada anime ini. Fokus Olin saat ini adalah bisakah virtual game itu diwujudkan dalam dunia nyata?

Dianolin (1): Kenyataan Lebih Menggiurkan

Ada sebuah kisah mengenai seorang gadis yang sedikit tersesat dengan peta kehidupannya. Nama gadis itu Dianolin. Kini ia sedang termangu bingung. Sudah habis dua episode drama Jepang ia tonton. Namun, perasaannya masih belum terpuaskan. Kisah ceritanya belum sesuai dengan keinginannya. Tapi ia menebak, pada akhirnya nanti pasti akan sama dengan yang diharapkannya. Hanya saja proses menuju episode akhir itu membuat hatinya jungkir balik. Ungkapan perasaan cinta mudah sekali diucapkan pemeran utamanya. Kali ini drama yang Olin –begitu sapaan akrabnya, sedang tonton bertemakan perjuangan seorang gadis mendapatkan laki-laki yang ia sukai. Berbagai hal dilakukan si gadis untuk membuat laki-laki itu menaruh perhatian padanya. Sia-sia saja, lelaki itu tidak sedikit pun menggerakkan bola matanya untuk melirik gadis itu. Olin merasa hal itu berkebalikan dengannya. Saat ini ada seorang temannya yang terlihat modus berulangkali padanya. Entah itu hanya menanyakan buku yang bagus untuk dibaca ...

Becanda kok nggak mutu

Sedikit cerita di bulan puasa. Mungkin ini berupa uneg-uneg dari kelakuan teman saya. Saya tipe orang yang bisa dibilang agak serius. Itu menurut saya dan pengalaman nyata juga orang-orang di sekitar yang sering bilang, "Jangan terlalu serius kenapa, Ndi". Okelah. Jadi kejadiannya kemarin hari Selasa. Saat kumpul dengan teman kelompok untuk membahas tugas, ada teman laki-laki dari kelas lain menyapa teman kelompok saya, cewek. Sebut aja teman kelompok saya ini Vira. Wawan, teman laki-laki saya tadi, mencoba untuk merebut ponsel Vira, sekedar bercanda beberapa kali. Saya yang lihat merasa risih. Becanda apa maksa ya? Pikir saya begitu. Akhirnya, Wawan berhenti ganggu dan mau pamit pulang. Eh, sebelum pulang dia minta salaman sama Vira. Spontan Vira mengatupkan kedua tangannya menandakan dia nggak mau salaman. Wawan ngeyel. Dia coba membungkus tangannya supaya tetap bisa bersalaman. Vira tetap nggak mau. Wawan tetap maksa, meski alasan Vira udah jelas. Mereka bukan mahram....

Rencana yang Tidak Direncanakan

Sudah beberapa kali saya menolak untuk membuat tulisan berjenis curhatan dikarenakan beberapa alasan. Pertama, curhatan itu dianggap tulisan ringan dan tidak berbobot. Awalnya saya berpikir seperti itu. Kedua, curhatan biasanya berisi aib penulis itu sendiri. Saya sempat bertanya apa iya saya selalu mengumbar kesalahan yang pernah saya buat ke orang lain? Ketiga, saya mau coba mencari gaya menulis yang berbeda. Menurut saya, gaya curhat itu sudah biasa bahkan sedang kekinian saat ini. Juga pembuatannya mudah, menuliskan apa yang pernah terjadi pada kita. Tapi alasan-alasan saya diatas itu pun dapat saya bantah sendiri. Karena yang buat alasan juga saya kan? Haha. Gaya curhat memang terkesan mudah dan sederhana. Tapi jangan salah, tidak semua orang bisa menuliskan apa yang dia pikirkan dan rasakan begitu mudah. Penyaluran segala pemikiran dan perasaan itu pun butuh metode dan kebiasaan menulis. Kemudian, tentang mengumbar aib. Di sini mungkin koreksi untuk saya pribadi agar membedak...

Jangan Takut Sendirian

Perasaan tak nyaman bahkan hambar seringkali menghampiri sebuah persahabatan. Perbedaan watak dan cara berpikir turut menyertai. Bagi saya pertemanan itu menyenangkan. Di satu sisi menjadi bumerang. Dengan mereka kita menjadi taat. Dengan mereka pula kita dapat melakukan maksiat. Itu tanpa kita sadari, karena dengan mereka hati sudah terbiasa. Seakan tumpul peringatan yang diucapkan di telinga kita, karena melihat teman juga masih sama seperti itu. Kita melakukan pembenaran dari orang lain yang belum paham. Begitukah pertemanan? Pengalaman berteman semua orang sudah pernah mengalaminya. Entah semanis gula buatan atau sepahit cokelat sebelum diolah. Sama juga kayak saya. Menarik cara saya berteman dulu ketika masih di bangku sekolah menengah pertama. Diri saya seakan terbagi menjadi dua. Satu sisi ingin berteman dengan teman-teman yang gaul. Satu sisinya lagi berteman dengan teman-teman yang sederhana. Entah kenapa saya mulai begini. Kelas 1 SMP saya nggak membagi diri seperti kelas 2 ...

Nasihat Seorang Teman

Beberapa hari terakhir ini inget sama temen-temen SMK. Banyak kenangan bagus-bagus ternyata. Salah satunya ya orang ini. Sama dia saya masih dalam proses hijrah. Meski gak selalu bareng dia, tapi soal dukungan selalu dapet dari dia. Namanya? Hm, dikasi inisial atau nama asli ya. Dia ini kayak emak gitu buat saya dan teman yang lain. Keibuan dan full perhatian. Baiq Farmi namanya. Sewaktu kita berdua lagi sering-seringnya pantengin video ceramah Ust. Felix Siauw, saya ditegur sama dia. Dulu, saya itu kalo udah suka sama sesuatu pasti suka terus dan dicari tau tentang itu. Sama halnya kayak ceramah tadi. Saya lagi suka banget dengerin ceramah dari Ust Felix, bahkan nggak mau dengerin ceramah dari ustadz lain. Sampai akhirnya, Emi (panggilan singkatnya) minta tolong sama saya untuk dianterin ambil bajunya yang udah selesai dijahit. Di perjalanan, dia ngomong tentang saya yang nggak mau dengerin ceramah lain. Dia bilang itu namanya pengkultusan. Meski kebenaran disampaikan oleh beliau jan...

Menjadilah...

Dalam lembaran hari tertulis kisah-kisah perjalanan hidup kita sebagai manusia. Mau kita menyadarinya tertulis atau tidak, tetap saja itu akan menjadi suatu kisah nantinya. Asam hambarnya sudah seringkali kita rasakan. Setiap kita selalu membutuhkan pendamping. Tidak mesti berwujud pasangan hidup yang terikat dengan suatu perjanjian. Ini lebih sederhana. Seorang teman yang akan menemani kita saat ini juga ke depannya, jika bisa.

Jangan Hanya Berbicara

Membicarakan keburukan orang lain bisa saja dilakukan semua orang. Rasanya mungkin enak, karena kita membicarakan orang lho. Kemudian, tanpa sadar kita membandingkannya dengan orang yg lain juga. Seperti kitalah juri dalam kehidupan mereka. Memutuskan mana yg terbaik dan mana yg terburuk. Mengurutkan perilaku manusia, mulai dari yg paling baik menurut kami hingga yg terburuk dengan standar kami, perasaan kami, dan anggapan kami. Kami sibuk sekali membicarakannya. Sebuah suara berbicara di dalam kepala kami. Suaranya terlalu kecil. Kami pun tidak ingin repot-repot berusaha mendengarkannya. Bahkan mengabaikannya. Tahukah suara itu berkata apa?

Betapa Malunya...

Akhir-akhir ini rasa malas kembali menjeratku. Kali ini ikatannya terasa lebih kuat, mampu mempengaruhi perasaanku. Sehingga rancangan kegiatan yg sudah direncanakan oleh pikiranku tidak kuasa menahan gejolak perasaan yang setiap hari kian bertambah. Bahkan mengendalikan. Mungkin ini yg dinamakan terjajah oleh diri sendiri. Ya, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Walau sebenarnya yg berperan disini adalah ketidakmampuan diri dalam menyeleksi apa yg tidak penting dan sangat penting.

Perasaan dan Prasangka

Perasaan itu sungguh sangat relative sekali. Ia bisa berubah menjadi hal menyenangkan jika berhubungan dengan kebahagiaan. Seseorang yang sedang senang hatinya pun bisa berubah menjadi seseorang yang lain, berani melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dicobanya. Mempunyai semangat yang berkobar begitu hebatnya. Mendadak menjadi pemotivasi bagi yang lain. Begitulah sekilas, dampak dari perasaan. Namun, seringkali kita hanya bisa merasakan indahnya hidup jika telah mengalami hal-hal yang baik. Hal-hal yang menyenangkan. Hal yang memang selalu diinginkan oleh setiap orang. Bagaimana halnya dengan perasaan negatif? Jangan ditanya pun, sudah pasti banyak sekali jawaban yang akan terlontar untuk mendefinisikan hal ini.

Punggungmu, Ayah!

Melihat punggungmu menjauh membuatku diriku seakan rindu. Kenangan beberapa tahun yang lalu tak pernah bosan mendatangiku disaat lelah maupun senang. Sudah beberapa hari ini kupendam perasaan ingin seperti dulu. Ketika membutuhkanmu selalu saja engkau ku panggil untuk membantuku. Tak peduli kau sedang sibuk atau tidak. Kalau hal itu masih memusingkanku, selalu kutanyakan sampai aku benar-benar memahaminya. Namun, sekarang. Ketika aku sudah mulai memasuki bangku kelas 2 SMK. Engkau seakan membiarkanku mengerjakan semuanya dengan tanganku tanpa pernah kau bantu. Disatu sisi aku merasa bangga bisa menyelesaikan banyak hal dengan tanganku. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Hanya sebentar. Dan kembali kepada membutuhkanmu layaknya dulu ketika aku masih kesulitan menghitung pembagian angka sederhana.