Langsung ke konten utama

Postingan

Kisah Sebuah Hadiah (1)

Hari ini merupakan hari yang biasa saja sepertinya. Bagi orang-orang yang sama sekali tidak mirip denganku. Bayangkan saja, mantan kekasihmu ehm atau sebut saja seseorang yang baik di masa lalumu berulang tahun pada hari ini. Dan mungkin ini satu-satunya cara agar aku bisa berkomunikasi lagi dengannya. Mengucapkannya selamat ulang tahun. Hal ini cukup menguras otak juga ternyata. Karena untuk membuat hadiah yang tepat, tentu kau tak ingin seorang pun tahu akan rencanamu ini. Begitu pula aku. Ketika sampai di sekolah, pikiranku hanya tertuju pada satu tempat. Lab. Dimana aku mendapatkan tegangan listrik untuk menghidupkan komputer jinjing tua ini, baterainya sudah tak sanggup menyala sendiri. Tololnya aku, memilih tempat duduk biasa layaknya belajar setiap hari. Dan bangku-ku terletak di tengah. Tengah. Meja kedua dari depan dan meja ketiga dari kiri. Jumlah baris bangku dari depan berkisar 8 bangku. Bukan berkisar, tetapi memang 8 bangku.

Aku

Kepalaku terasa gamang, tidak seperti biasanya. Bahkan kali ini perjalanan hidupku seakan tampil di hadapan orang banyak, layaknya film di bioskop aku pun turut menyaksikannya. Entah mengapa sensasi yang kudapatkan setelah menontonnya diluar dugaanku. Mataku, tubuhku tak mau bergerak berdasarkan perintahku. Mereka hanya diam terpaku pada posisi masing-masing. Mungkin ini yang dinamakan galau. Tapi bukan begini menurutku. Bagai seseorang yang kehausan, aku mencari kasih sayang dimana pun aku berada. Mengenaskan sekali bukan? Aku tidak bohong.

Hujan Berhenti

Hujan ya. Salah satu cuaca favorit saya sebenarnya. Dingin kelam. Terlihat jahat, namun sebenarnya baik. Memberi minum kepada para tanaman yang sedang kehausan. Sejuk udaranya membuat mata kian rindu akan pelukan selimut. Hangatnya tempat tidur terngiang-ngiang di dalam kepala. Duh, kok ngelantur sih. Oke deh, jujur aja. Lagi kurang suka kata hujan akhir-akhir ini. Karena habis hujan namanya jadi reda. Mengingatkan saya pada nama seorang laki-laki bermata sipit. Cukup menyiksa. Awal menjalani hari, gak ada kepikiran sedikitpun tentang laki-laki itu. Datang ke sekolah dan berkumpul bersama teman, teringat sedikit kepadanya. Apa karena faktor satu sekolah? Apa karena dia laki-laki pertama yang saya perhatikan di sekolah ini? Cukup-cukup. Membuat postingan ini sejatinya mengingatkan saya lebih dalam lagi. Oke, sudah cukup. Gak berani berharap banyak bisa ketemu sama dia di lain waktu. Ketemu di sekolah pun rasanya sekali seminggu apalagi nanti ketika prakerin dimulai. Hmm, ayo jangan t...

Kataku Padamu

Bertemu denganmu bukan harapanku. Bertemu denganmu bukan bagian dari rencanaku. Sepeda serta keluarga yang serderhana tak pernah membuatku memandang rendah dirimu, kau tahu. Masih berharap padamu itulah aku. Tak tahu apa yang kau rasakan, itulah yang sedang terjadi padaku. Kecewa denganmu, itu juga yang terasa padaku. Tak tahukah kau, yang ku inginkan sebenarnya adalah isi kepalamu berubah! Hanya itu. Memberatkan bagimu? Untuk kebaikan dirimu semata suliltkah bagimu? Hanya itu inginku. Sepeda, ku suka itu lebih dari sepeda motor. Sebabnya sepeda tak mengeluarkan polusi yang menggangguku. Keluarga sederhana, ku ingin seperti itu lebih dari apa pun. Bersama adik dan ayah dalam satu perjalanan.

Lihat gambar dibawah ini

Sekarang ane ngerasa ada yang beda dari yang dulu. Sudut pandang. Mungkin itu. Saat itu, yang dulu sekali, pikiran ini pendapat ini hanya sebatas perkiraan saja. Dimana perkiraan bisa dikaitkan dengan perasaan, yang terkadang tidak masuk diakal. Mulai pusing? Oke, itu normal. Merasa berbeda karena usia pun turut berbeda yang memaksakan raga ini untuk memahami sesuatu yang sulit untuk dipahami. Merasa bodoh, tak mengerti apa itu saat itu juga. Lalu, tersadar bahwa ilmu tidak akan diraih oleh dengan kebosanan atau merasa cukup. Ilmu juga membutuhkan waktu untuk dipahami. Ilmu, sesungguhnya untuk apa ilmu itu. Mampukah menuntun jiwa ini ke syurga-Mu? Jalan yang benar-benar berbeda. mungkin saja ini banting setir dari tujuan semula. Yap, semua berawal karena ketidaktahuan yang berharga ini. Sombong diri ini merasa mengetahui segalanya, ketika suatu pertanyaan menghampiri membuat bibir tak mampu berbunyi.

They are your sister

Jangan salahkan mereka. Kau yang mempunyai kendali atas ini! Mereka boleh "menginjak"mu, tetapi kau tak boleh membenci mereka. They are your sister. They need your support. Mereka sama sekali tidak mengintimidasimu, akan tetapi perasaan tak bisa selalu ditahan. Kau bersyukur mereka berusaha merubah diri mereka. Perkataannya mungkin tak selaras dengan pemahamanmu. Yakinlah, mereka juga sama sepertimu. Masa lalu merupakan percobaan terbaik. Tanpanya tak mungkin kau menginginkan perubahan.  Dia yang dulu dan sekarang sebenarnya sama saja. Yang membedakan hanyalah pemahamannya yang juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tak bisalah kau menyalahkan dia yang terlanjur terperosok.

Yang Pertama

Orang-orang itu pernah mendapat posisi terdekat dalam hidup saya. Akan tetapi, akhir-akhir ini sering teringat kepada mereka yang sekarang berbeda jalur dengan tujuan yang sama. Ingin memberitahu jalan pintas, namun tak kunjung mendapat sinyal penerimaan. Luka hati disebabkan menjauhnya mereka atau saya menjauhkan diri dari mereka. Ketika mereka menemukan jalan baru yang lebih cepat, ingin rasanya menerima kabar. Kecewa dan sedih ketika berpikir, "Mengapa harus saya duluan?" Lalu tepukan halus menyapa bahu ringkuh ini. Senyuman. Kebaikan tak pantas disembunyikan.